Berdikari.co, Bandar Lampung - Hasil
perhitungan (audit) kerugian negara dalam kasus mark up biaya hotel DPRD
Tanggamus tahun 2021 sebesar Rp9 miliar lebih. Angka ini lebih besar
dibandingkan potensi kerugian negara yang pernah disampaikan Kejaksaan Tinggi
(Kejati) Lampung senilai Rp7,7 miliar.
Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum)
Kejati Lampung, Ricky Ramadhan mengatakan telah dilakukan penghitungan riil
kerugian negara atas kasus mark up biaya hotel yang dilakukan oleh anggota DPRD
Tanggamus tahun anggaran 2021.
"Iya sudah dilakukan audit secara
independen, dimana kerugian negara itu sebesar Rp9 miliar lebih. Secara
detailnya saya lupa," kata Ricky saat ditemui usai melaksanakan salat Asar
di masjid Kejati Lampung, Senin (21/3).
Ditanya pengembalian uang kerugian negara
dalam kasus tersebut, Ricky mengatakan hingga saat ini jumlah uang yang telah
dikembalikan bertambah menjadi Rp5 miliar.
"Sampai hari ini jumlah kerugian negara
yang telah dikembalikan bertambah. Kalau kemarin itu Rp4,5 miliar, dan sekarang
sudah jadi Rp5 miliar," katanya.
Ricky menjelaskan, saat ini penyidik Kejati
Lampung sudah memeriksa sebanyak 17 saksi. Namun, ia mengaku belum mengetahui
informasi lebih lanjut apakah akan ada pemeriksaan lanjutan.
"Kalau untuk saksi diluar 17 orang
kemarin saya belum tahu informasi lebih lanjutnya," imbuhnya.
Sekadar mengingatkan, pimpinan dan anggota
DPRD Tanggamus diduga melakukan mark up biaya perjalanan dinas yang berasal
dari APBD tahun anggaran 2021 yang terealisasi sebesar Rp12 miliar.
Dugaan mark up yang dilakukan masuk dalam
komponen biaya penginapan pada anggaran belanja perjalanan dinas paket meeting
luar dan dalam kota sekretariat DPRD Kabupaten Tanggamus.
Paket tersebut berupa biaya penginapan di dua
hotel di Bandar Lampung, dua hotel di Jakarta, tujuh hotel di Sumatera Selatan
dan 12 hotel di Jawa Barat.
Adapun modus yang dilakukan dengan
penggelembungan biaya kamar hotel dan dilampirkan di Surat Perjalanan Dinas
(SPJ).
Selanjutnya, dengan cara menambah atau
melebihkan harga kamar hotel yang tidak sesuai dengan harga yang telah
ditetapkan oleh pihak hotel, serta melakukan tagihan fiktif hotel pada SPJ
dimana nama yang dilampirkan tidak pernah menginap berdasarkan data yang ada di
komputer masing-masing hotel. (*)