Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Kamis, 27 Februari 2025

Siswa SDN 1 Braja Gemilang Lamtim Dapat Daging Ayam Sebesar Jari Jempol di Program Makan Bergizi Gratis

Oleh ADMIN

Berita
Penampakan lauk ayam goreng berukuran kecil di menu MBG Siswa SDN 1 Desa Braja Gemilang, Kecamatan Braja Selebah, Lampung Timur. Foto: Ist

Berdikari.co, Bandar Lampung - Siswa SDN 1 Desa Braja Gemilang, Kecamatan Braja Selebah, Lampung Timur, mendapatkan daging ayam sebesar jari jempol orang dewasa saat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah setempat.

Ada temuan menarik saat pelaksanaan program MBG di Kabupaten Lampung Timur, tepatnya di SDN 1 Desa Braja Gemilang, Kecamatan Braja Selebah, pada Selasa (26/2/2025) lalu.

Pada menu makanan yang diberikan kepada para siswa SD setempat terdapat daging ayam sebesar jari jempol kaki orang dewasa. Lalu ada nasi, tahu, sayur dan satu buah jeruk.

Keberadaan lauk daging ayam sebesar jari jempol orang dewasa inilah yang menjadi bahan candaan siswa setempat.

“Lauk daging ayamnya sebesar jari jempol. Mana bisa kenyang kalau segini mah,” kata seorang siswa sembari tertawa, Selasa (26/2/2025).

Koordinator dapur umum setempat, Widodo, mengatakan untuk jenis menu dan kadar vitamin ditentukan oleh pihak gizi yang bertugas di dapur umum.

Ia mengatakan, pada peluncuran perdana di Kecamatan Braja Selebah, menu yang disajikan mencakup nasi putih, daging ayam, tahu goreng, dan sayur.

"Kalau untuk bulan puasa nanti kami belum tahu libur atau tidak, dan kalau libur masih dapat honor atau tidak kami juga belum tau"kata Widodo.

Widodo mengungkapkan, ia bersama 40 orang lainnya bertugas memasak, mengepak makanan, dan mengantar ke sekolah. Dalam satu bulan, ia digaji sebesar Rp2 juta dengan waktu kerja 8 jam.

Pihak Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), Ikhwanudin, yang bertugas sebagai pengawas dapur umum wilayah Desa Braja Mulya, Kecamatan Braja Selebah, membantah informasi tersebut. Menurutnya, hal itu tidak benar dan jauh dari fakta.

Ikhwanudin menjelaskan tidak ada ukuran lauk yang kecil karena semua sudah standar ukuran yang menyesuaikan tingkat kelab anak, tentu kelas 1,2 dan 3 akan berbeda dengan kelas 3,4 dan 5 kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh berbeda.

Lebih lanjut, Ikhwanudin menegaskan bahwa lauk yang diberikan kepada siswa SDN Desa Braja Gemilang telah melalui proses pemeriksaan terlebih dahulu sebelum dipaketkan.

"Sebelum dipacking, kami sudah melakukan pengecekan, jadi informasi yang beredar tentang potongan ayam yang kecil itu tidak sesuai dengan kenyataan," ujarnya.

Menurutnya, meskipun ada kekeliruan kecil yang mungkin terjadi, hal itu bisa menjadi pengalaman untuk lebih teliti lagi, mengingat program ini baru saja diluncurkan.

Ikhwanudin juga menegaskan bahwa potongan ayam yang terlihat dalam foto yang beredar sebenarnya sudah sesuai dengan standar gizi untuk anak-anak SD. Sebab, setiap menu yang disiapkan telah diperiksa dan disetujui oleh pihak ahli gizi yang bertugas di dapur Braja Mulya.

"Kami sudah memastikan bahwa menu yang diberikan mengandung nilai gizi yang baik untuk anak-anak," jelasnya.

Terakhir, Ikhwanudin mengajak masyarakat untuk memantau langsung program makan bergizi gratis ini di sekolah-sekolah yang mendapatkan bantuan.

"Program ini terbuka untuk pengawasan dari siapa saja, kami percaya masyarakat dapat memantau secara langsung dan memastikan program ini berjalan dengan profesional," tutupnya.

Sementara itu, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Lampung menyebut program MBG di Provinsi Lampung telah menjangkau 12.735 siswa di 70 sekolah.

Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi Lampung, Mohammad Dody Fachrudin, mengatakan anggaran yang digunakan untuk program MBG Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi dan total belanja harian sementara sekitar Rp191,59 juta.

Program MBG melibatkan beberapa pihak, termasuk supplier pangan, ahli gizi, pemerintah daerah, unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan kepolisian, guna memastikan kelancaran distribusi.

"Partisipasi berbagai pemangku kepentingan menunjukkan adanya proses peningkatan komitmen dalam mendukung pemenuhan gizi anak-anak usia sekolah," kata Dody, Rabu (26/2/2025).

Dody mengungkapkan, program MBG diharapkan tidak hanya meringankan beban pengeluaran makan siang bagi rumah tangga miskin, tetapi juga memberikan manfaat gizi yang lebih luas, terutama bagi anak sekolah dan kelompok rentan lainnya.

"Opsi strategi kebijakan yang mensinergikan MBG dengan program bantuan sosial lainnya menunjukkan potensi manfaat dan efisiensi kebijakan pangan kepada masyarakat yang lebih luas," kata dia. (*)

Editor Sigit Pamungkas