Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Jumat, 28 Februari 2025

Pengamat: Keluarga dan Pendidikan Berperan Besar Bentuk Individu Bermental Kuat

Oleh ADMIN

Berita
engamat Sosial Universitas Lampung, Arif Sugiono. Foto: Ist

Berdikari.co, Bandar Lampung - Pengamat Sosial Universitas Lampung, Arif Sugiono, menyebut meningkatnya jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tidak hanya terjadi di Provinsi Lampung, tetapi juga di berbagai daerah lain.

Menurutnya, perkembangan teknologi, arus informasi yang semakin deras, serta meningkatnya tekanan hidup menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap lonjakan jumlah orang dengan gangguan jiwa. 

"Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara juga mengalami peningkatan jumlah orang dengan gangguan mental. Hal ini disebabkan oleh beban kerja yang semakin tinggi, tekanan ekonomi, serta lingkungan sosial yang kurang mendukung kesehatan mental," kata Sugiono, Kamis (27/2/2025).

Ia mengungkapkan, budaya populer yang berkembang saat ini juga dapat mempengaruhi pola pikir dan emosi seseorang, sehingga jika tidak diimbangi dengan ketahanan mental yang baik, individu akan rentan mengalami gangguan psikologis.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa untuk meminimalisir fenomena ini diperlukan pendekatan holistik yang menggabungkan tiga aspek kecerdasan, yaitu kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual.

“Ketiga kecerdasan ini harus dikembangkan secara seimbang, baik dalam lingkungan keluarga maupun pendidikan,” katanya. 

"Keluarga dan dunia pendidikan memiliki peran besar dalam membentuk individu yang kuat secara mental. Jika seseorang tidak memiliki keseimbangan dalam tiga aspek kecerdasan ini, maka mereka akan lebih mudah mengalami tekanan mental dan rentan mengalami gangguan psikologis,” lanjutnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, semua pihak harus menyiapkan individu dengan kecerdasan yang baik agar mereka mampu menghadapi tekanan hidup dengan lebih baik.

Menurutnya, jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mengelola tekanan hidup dengan baik, maka akan muncul kondisi yang disebut sebagai ‘kepribadian robek’.

Dalam konteks psikologi, kondisi ini dapat membuat seseorang kehilangan keseimbangan emosional dan intelektual, sehingga mereka lebih mudah mengalami gangguan mental. 

“Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Dunia pendidikan diharapkan dapat memberikan pelatihan dan program yang membantu siswa dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual, selain kecerdasan intelektual,” paparnya.

"Jika ada tekanan dari luar, maka seseorang tadi bisa mengelola dengan baik. Dengan melalui otak kanan dan kirinya, dimana proses itu butuh treatment di sekolah dan lingkungan," pungkasnya. (*)

Editor Sigit Pamungkas