Berdikari.co, Metro – Kesabaran warga Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, seolah telah habis. Kondisi Jalan Pattimura yang tak kunjung diperbaiki memicu aksi protes simbolik dengan menanam pohon pisang di tengah lubang jalan yang menganga.
Pemandangan tersebut bukan tanpa alasan. Lubang-lubang berdiameter lebar dan cukup dalam tersebar di sepanjang jalan. Saat hujan turun, genangan air menutup permukaan aspal yang rusak, menjebak pengendara yang tidak dapat memperkirakan kedalaman lubang. Situasi ini menimbulkan rasa waswas setiap kali kendaraan melintas.
Kecelakaan tunggal, khususnya yang dialami pengendara sepeda motor, disebut warga kerap terjadi. Pengendara terperosok, kehilangan keseimbangan, hingga terjatuh karena menghindari lubang secara mendadak.
Kondisi tersebut memicu kemarahan dan kekecewaan warga terhadap kinerja pemerintah yang dinilai lamban menangani persoalan infrastruktur mendasar.
“Sudah bertahun-tahun rusak seperti ini. Kalau hujan makin parah. Banyak yang jatuh, tapi tidak ada perbaikan total,” ujar Hardi salah seorang warga setempat, Minggu (15/2/2026).
Ruas Jalan Pattimura diketahui merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Lampung. Namun hingga kini, perbaikan menyeluruh belum juga terealisasi.
Upaya tambal sulam yang sesekali dilakukan dinilai tidak bertahan lama dan kembali rusak dalam waktu relatif singkat.
"Sebagai bentuk kritik, warga menanam pohon pisang di lubang jalan ini. Aksi ini menjadi simbol bahwa jalan yang seharusnya menjadi akses vital justru lebih menyerupai lahan kosong yang dibiarkan. Pohon pisang yang berdiri di tengah badan jalan menjadi penanda nyata kekecewaan warga," ucapnya.
Sejumlah pengendara yang melintas menyatakan dukungan terhadap gerakan tersebut. Mereka menilai aksi menanam pohon pisang perlu dilakukan secara masif di sepanjang jalan agar menjadi perhatian serius pemerintah.
“Kalau perlu sepanjang Jalan Pattimura ditanami saja. Biar benar-benar kelihatan betapa parahnya kondisi ini,” kata Lukman, salah seorang pengendara.
Padahal, Jalan Pattimura merupakan akses penghubung utama antara Kota Metro dan Kabupaten Kabupaten Lampung Tengah. Setiap hari, jalur ini dilintasi kendaraan pribadi, angkutan barang, hingga aktivitas ekonomi masyarakat lintas wilayah.
"Kerusakan parah yang terjadi ini seringmenghambat arus lalu lintas dan memperlambat mobilitas warga. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai prioritas pembangunan infrastruktur di tingkat provinsi. Apakah pembangunan jalan kerap digaungkan sebagai komitmen peningkatan pelayanan publik. Apakah ruas strategis yang menjadi urat nadi pergerakan warga justru terkesan dibiarkan tanpa penanganan komprehensif," jelasnya.
Warga berharap pemerintah provinsi bersama DPRD segera turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil yang mereka hadapi setiap hari. Mereka mendesak adanya langkah konkret dan percepatan perbaikan menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam sementara.
Bagi masyarakat, jalan yang layak bukan sekadar fasilitas, melainkan hak dasar untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam beraktivitas.
Pohon pisang yang kini berdiri di tengah Jalan Pattimura menjadi pengingat bahwa ketika aspirasi tak direspons, kritik akan tumbuh di atas aspal yang retak. (*)

berdikari









