Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Selasa, 24 Februari 2026

DPRD Ingatkan SPPG Jangan Berikan Menu Asal-asalan

Oleh ADMIN

Berita
Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa. Foto: Berdikari.co

Berdikari.co, Bandar Lampung - Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa, mengingatkan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) agar tidak memberikan menu asal-asalan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan.

Andika mengatakan, selama Ramadan penyaluran MBG dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni setiap hari Senin dan Kamis. Ia menegaskan kualitas makanan harus tetap menjadi perhatian utama meskipun mekanisme distribusi mengalami penyesuaian.

Menurutnya, menu MBG selama Ramadan tidak dikonsumsi di sekolah, melainkan dibawa pulang oleh peserta didik untuk disantap saat berbuka puasa. Karena itu, makanan yang disiapkan berupa menu kering dan tahan lama.

“MBG tetap ada selama Ramadan, tetapi tidak dimakan di tempat. Anak-anak bisa mengkonsumsinya saat berbuka. Menu juga disesuaikan seperti roti, susu, dan buah yang bisa dinikmati pada malam hari,” ujar Andika, Senin (23/2/2026).

Ia menilai perbedaan pandangan masyarakat terkait menu MBG selama Ramadan merupakan hal yang wajar. Namun, tujuan utama program tersebut tetap untuk memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi, termasuk saat menjalankan ibadah puasa.

“Namanya program pemerintah tentu sudah melalui perhitungan dan kajian. Jika niatnya untuk membantu kebutuhan gizi anak, terutama sebagai tambahan menu berbuka, tentu patut didukung,” tegasnya.

Andika menekankan agar SPPG memperhatikan kualitas dan komposisi menu yang diberikan. Makanan yang dibagikan harus segar, memiliki gizi seimbang, serta sesuai kebutuhan anak selama berpuasa. Buah-buahan seperti pisang dan apel serta susu dinilai tepat karena praktis dan tetap bergizi.

“Menu harus benar-benar diperhatikan. Jangan asal-asalan atau sekadar makanan kering. Kualitas dan kesegaran harus dijaga, serta kandungan gizinya diperhitungkan dengan baik,” katanya.

Selain itu, ia juga mengingatkan pengelolaan anggaran program MBG harus dilakukan secara transparan dan tepat sasaran. Menurutnya, alokasi dana per porsi wajib dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan pemenuhan gizi peserta didik tanpa mengurangi kualitas makanan.

“Jika anggaran per porsi sudah ditetapkan, maka harus digunakan sebagaimana mestinya. Prioritasnya adalah kebutuhan gizi anak. Jika menu baik dan sesuai, masyarakat tentu tidak akan mempermasalahkan,” ujarnya.

Ia berharap penyesuaian menu dan mekanisme distribusi selama Ramadan dapat membuat program MBG tetap berjalan optimal serta memberikan manfaat nyata bagi peserta didik tanpa mengurangi kekhidmatan ibadah puasa. (*)

Editor Sigit Pamungkas