Berdikari.co, Tulang Bawang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tulang Bawang menjadi sorotan setelah puluhan penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan yang diduga akibat keracunan makanan, Selasa (24/2/2026).
Sebanyak 31 orang yang terdiri dari siswa, guru, anak guru, hingga wali murid dilaporkan mengalami gejala muntah dan diare berulang setelah mengonsumsi menu MBG berupa roti, telur, dan buah. Makanan tersebut sebelumnya dibawa pulang dari sekolah untuk disantap saat berbuka puasa.
Informasi yang dihimpun, seluruh korban berasal dari Kecamatan Menggala. Keluhan kesehatan mulai dirasakan beberapa waktu setelah makanan dikonsumsi, sehingga para korban segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Sebagian korban mendapat penanganan medis di Klinik Menggala Medical Centre, sementara lainnya dirujuk ke RSUD Menggala. Hingga Selasa malam, sejumlah pasien masih menjalani perawatan intensif guna memulihkan kondisi tubuh akibat dugaan keracunan tersebut.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena tidak hanya menimpa siswa sebagai penerima program, tetapi juga guru serta anggota keluarga yang ikut mengonsumsi makanan MBG di rumah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tulang Bawang, Ferli Yuledi, langsung meninjau korban yang dirawat di Klinik Menggala Medical Centre pada Selasa sore. Ia memastikan pemerintah daerah akan mengambil langkah cepat untuk mencegah kejadian serupa terulang.
“Kemungkinan akan kita lakukan peringatan dan sidak ke masing-masing SPPG. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali. Apalagi ini di bulan Ramadhan, kasihan para korban,” katanya.
Ferli menegaskan, Pemkab Tulang Bawang akan mengingatkan pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melalui koordinator wilayah agar seluruh proses pengolahan makanan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kondisi korban sekaligus memperkuat pengawasan pelaksanaan MBG agar makanan yang diterima anak-anak benar-benar sehat, higienis, dan sesuai standar keamanan pangan. Hingga saat ini, sebagian korban masih menjalani perawatan di RSUD Menggala. (*)

berdikari









