Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Kamis, 26 Februari 2026

Usai Kasus Keracunan, Terungkap SPPG di Menggala Belum Kantongi Sertifikat Higiene

Oleh Erik Handoko

Berita
Sekretaris Daerah Kabupaten Tulang Bawang, Ferli Yuledi saat meninjau siswa yang dirawat di Rumah Sakit. Foto: Ist

Berdikari.co, Bandar Lampung - Kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa, guru, hingga wali murid di Kabupaten Tulang Bawang berbuntut penghentian sementara operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Menggala Tengah. Penutupan dilakukan setelah ditemukan sejumlah persoalan standar keamanan pangan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Tulang Bawang, Ferli Yuledi, langsung melakukan peninjauan lapangan pasca kejadian yang terjadi pada Selasa (24/2/2026). Dari hasil pengecekan, diketahui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Menggala Tengah belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan.

Kepala SPPG Menggala Tengah, Fajri, membenarkan bahwa dapur MBG yang dikelolanya hingga saat ini belum memiliki sertifikat tersebut sejak mulai beroperasi pada Agustus 2025 lalu.

“Sejak dibuka pada bulan Agustus 2025 lalu sampai hari ini kami pihak SPPG Menggala Tengah belum memiliki SLHS,” ujar Fajri, Rabu (25/2/2026).

Ia menegaskan pihaknya bukan tidak mengurus perizinan, namun proses penerbitan sertifikat masih berjalan di Dinas Kesehatan.

“Sampai detik ini belum keluar mungkin ada beberapa persyaratan yang belum terpenuhi, mengingat banyaknya persyaratan untuk mendapatkan SLHS,” ucapnya.

Selain persoalan administrasi, pengawasan mutu makanan di dapur MBG tersebut juga diakui masih dilakukan secara manual dan belum melibatkan pengecekan detail oleh ahli gizi. Padahal, keberadaan tenaga ahli gizi menjadi komponen penting dalam memastikan standar keamanan pangan, keseimbangan menu, serta pemenuhan angka kecukupan gizi bagi penerima manfaat.

Fajri menjelaskan proses kontrol kualitas bahan makanan masih bersifat sederhana, termasuk saat menerima bahan pangan yang diduga menjadi penyebab keracunan.

“Dalam melakukan kontrol kualitas pangan, di SPPG Menggala Tengah dilakukan secara manual, seperti halnya ketika kami menerima telor asin yang diduga menjadi sumber keracunan. Pihak kami hanya melakukan pengelapan telor agar terlihat bersih walaupun sebenarnya secara fisik dilihat telah bersih,” tuturnya.

SPPG Menggala Tengah sendiri diketahui melayani 3.912 penerima manfaat program MBG, terdiri dari 3.712 siswa sekolah serta 200 penerima dari kelompok balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Tulang Bawang, Faisal, mengatakan Badan Gizi Nasional (BGN) langsung mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional dapur MBG tersebut guna kepentingan evaluasi dan investigasi lebih lanjut.

“Tim Pemantau dan Pengawas BGN langsung mengeluarkan surat rekomendasi pemberhentian sementara SPPG Menggala Tengah sampai waktu yang tidak bisa ditentukan,” terang Faisal.

Pemerintah daerah bersama pihak terkait kini masih melakukan pendalaman penyebab pasti dugaan keracunan sekaligus evaluasi standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut. (*)


Editor Sigit Pamungkas