Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Jumat, 27 Februari 2026

Diduga Lalai Tangani Pasien, RSIA Puri Betik Hati Dilaporkan ke Dinkes Lampung

Oleh ADMIN

Berita
RSIA Puri Betik Hati di Bandar Lampung. Foto: Ist

Berdikari.co, Bandar Lampung - Seorang pasien anak bernama Abizar Fathan Athallah (13) meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSIA Puri Betik Hati. Keluarga korban menduga terdapat kelalaian dalam penanganan medis dan melaporkan kasus tersebut ke Dinas Kesehatan Provinsi Lampung.

Orang tua korban, Muslim, mengatakan laporan telah disampaikan melalui Dinas Kesehatan Provinsi Lampung serta aplikasi layanan pengaduan Lampung-In agar peristiwa tersebut segera ditindaklanjuti.

Muslim, warga Perumahan Griya GMI Blok B4/35 Bandar Lampung, menjelaskan kejadian bermula pada 15 Februari 2026 sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu, ia membawa anaknya ke Unit Gawat Darurat (UGD) karena mengalami muntah-muntah disertai nyeri perut hebat.

“Saat diperiksa, awalnya dokter menyampaikan anak saya akan diberikan suntikan pereda nyeri dan anti mual. Jika membaik bisa rawat jalan,” kata Muslim kepada Kupas Tuntas, Kamis (26/2/2026).

Namun, saat proses administrasi berlangsung, ia mengaku diminta melakukan pembayaran karena layanan rawat jalan tidak dapat menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Karena keterbatasan biaya, pihak rumah sakit kemudian menyarankan agar pasien dirawat inap agar dapat menggunakan BPJS.

“Setelah administrasi selesai, barulah anak saya mendapatkan tindakan medis berupa suntikan, pemasangan infus, serta pengambilan sampel darah,” ujarnya.

Selama menjalani perawatan, kondisi korban disebut terus memburuk. Anak tersebut mengalami muntah berulang hingga belasan kali dan terus mengeluhkan nyeri perut. Muslim mengaku telah beberapa kali melaporkan kondisi anaknya kepada perawat jaga, namun hanya diberikan obat pereda nyeri.

“Anak saya terus meringis kesakitan. Saya sudah bolak-balik melapor, tapi hanya diberikan obat pereda nyeri saja,” ungkapnya.

Pada 16 Februari 2026 pagi, dokter spesialis anak menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan leukosit hingga sekitar 19.000 yang mengindikasikan adanya infeksi. Pasien kemudian diberikan terapi antibiotik, tetapi kondisinya tidak membaik. Cairan muntahan bahkan berubah warna menjadi kuning hingga hijau.

Memasuki dini hari 17 Februari 2026, kondisi pasien semakin menurun. Setelah pemeriksaan lanjutan, dokter menyampaikan dugaan usus buntu dan menyarankan tindakan operasi. Pasien diminta berpuasa sejak pagi sebagai persiapan operasi.

Namun, menurut Muslim, penanganan lanjutan berjalan lambat. Pemeriksaan rontgen baru dilakukan sekitar pukul 09.30 WIB, sementara dokter bedah disebut baru datang pada sore hari untuk memastikan tindakan operasi.

“Anak saya sudah puasa sejak pagi, tapi sampai siang belum juga ditangani. Bahkan terus meminta minum karena kesakitan,” katanya.

Ia juga menyebut keterlambatan operasi diduga terjadi karena dokter anestesi sulit dihubungi. Setelah persetujuan operasi ditandatangani keluarga, kondisi anaknya semakin kritis hingga mengalami penurunan kesadaran dan harus mendapatkan tindakan darurat.

Namun, upaya penyelamatan tidak berhasil dan korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

“Anak kami meninggal dunia. Kami merasa ada kelalaian dalam penanganannya. Kalau memang tidak sanggup, kenapa tidak dirujuk saja,” ujar Muslim.

Atas kejadian tersebut, keluarga korban resmi melaporkan kasus ini ke Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Pihak dinas, kata Muslim, menyatakan telah menerima laporan dan akan memanggil pihak rumah sakit untuk proses klarifikasi.

“Kami berharap ada investigasi menyeluruh serta pertanggungjawaban atas dugaan kelalaian yang menyebabkan meninggalnya anak kami. Kami hanya ingin keadilan untuk anak kami,” ujarnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui nomor layanan call center RSIA Puri Betik Hati, petugas rumah sakit menyatakan akan meneruskan permintaan konfirmasi kepada bagian terkait.

“Baik, kami konfirmasi ke bagian terkait terlebih dahulu, nanti akan kami informasikan kembali,” ujar petugas call center rumah sakit. (*)

Editor Sigit Pamungkas