Berdikari.co, Bandar Lampung – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR RI menggelar peningkatan kapasitas pengguna riset dan inovasi bertema Diseminasi Teknologi Pengolahan Pangan di Hotel Horison Lampung, Jumat (27/2/2026).
Kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong hilirisasi produk pangan di Provinsi Lampung agar tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah, melainkan mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah tinggi.
Dalam keynote speech, Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Kadafi, menegaskan bahwa Lampung memiliki posisi strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
“Jakarta pangannya dipasok dari Lampung. Ini harus menjadi semangat untuk melihat potensi dan tantangan baru, bukan hanya untuk kemajuan Lampung, tetapi juga Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia kaya sumber daya alam, namun masih banyak komoditas diekspor dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah justru dinikmati daerah atau negara lain.
“Kita sering makan dan membawa oleh-oleh cokelat dari provinsi lain dengan harga yang cukup mahal, padahal bahan mentahnya dari Lampung yang harganya cukup terjangkau. Kalau kita punya semangat memberi nilai tambah, kita bisa menjadi pemain utama. Ini yang harus kita kembangkan,” tegasnya.
Kadafi menilai diseminasi teknologi pengolahan pangan harus menjadi gerakan bersama untuk mendorong inovasi berkelanjutan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia mencontohkan komoditas pisang yang melimpah di Lampung namun kerap mengalami penurunan harga saat panen raya.
“Produk pisang kita melimpah, tapi harga sering jatuh. Padahal dengan strategi inovasi dan pengolahan yang tepat, ini bisa menjadi produk unggulan. Apalagi saat ini tren hidup sehat semakin meningkat,” katanya.
Selain sektor pertanian, ia juga menyoroti potensi perikanan Lampung, termasuk komoditas ikan dan lobster dari wilayah pesisir barat yang dinilai berpeluang besar menjadi produk olahan bernilai tinggi untuk pasar nasional maupun ekspor.
Kadafi menambahkan, dukungan infrastruktur seperti Pelabuhan Bakauheni, Jalan Tol Trans Sumatera, serta Bandar Udara Internasional Radin Inten II menjadi modal penting untuk memperluas distribusi produk pangan olahan Lampung ke berbagai daerah bahkan mancanegara.
Sementara itu, Peneliti Muda BRIN, Mahargono Kobarsih, memaparkan sejumlah teknologi pengolahan pangan sederhana yang dapat diterapkan oleh pelaku UMKM.
“Tujuan pelatihan ini untuk menurunkan risiko kontaminasi, meningkatkan mutu dan konsistensi produksi, memperpanjang umur simpan dengan teknologi sederhana, serta memperkuat kemasan dan label agar produk lebih dipercaya konsumen,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan proses produksi untuk meminimalkan risiko kontaminasi jamur, bakteri, maupun virus. Selain itu, kemasan dan label yang informatif dinilai berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat daya saing produk.
Melalui kegiatan tersebut, BRIN dan Komisi X DPR RI berharap hasil riset dan inovasi dapat diimplementasikan secara nyata oleh masyarakat, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis potensi lokal dan peningkatan nilai tambah produk pangan Lampung. (*)

berdikari









