Berdikari.co, Jakarta - Pengamanan ketat namun humanis diterapkan dalam mengawal aksi peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di kawasan Gedung DPR/MPR RI.
Sebanyak 6.678 personel gabungan dari TNI, Polri, dan unsur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diterjunkan untuk memastikan jalannya aksi berlangsung aman dan tertib.
Wakapolda Metro Jaya Dekananto Eko Purwono menegaskan, seluruh personel telah diinstruksikan mengedepankan pendekatan persuasif dalam menghadapi massa aksi. Ia secara tegas melarang penggunaan senjata api dalam bentuk apa pun selama pengamanan berlangsung.
“Personel harus mengedepankan tindakan humanis. Tidak ada penggunaan senjata api, dan saya minta dilakukan pengecekan ulang untuk memastikan hal tersebut,” ujarnya saat memimpin apel kesiapan pengamanan, Jumat (1/5/2026).
Pengamanan berlapis ini dilakukan untuk mengawal sekitar 5.000 massa buruh yang diperkirakan akan menyampaikan aspirasi mereka di depan kompleks parlemen. Aparat juga memastikan kehadiran mereka tidak mengganggu hak masyarakat lain serta tetap menjaga ketertiban umum.
Selain pengamanan terbuka, kepolisian juga menyiagakan tim intelijen guna mengantisipasi potensi gangguan dari kelompok tak terdeteksi. Pemantauan dilakukan terhadap pergerakan massa maupun narasi yang berkembang di lapangan guna mencegah potensi kerusuhan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Budi Hermanto menegaskan pihaknya tidak akan memberi toleransi terhadap oknum yang mencoba memprovokasi atau menciptakan kericuhan di tengah aksi.
“Tidak ada ruang bagi perusuh di wilayah DKI Jakarta. Tim penegakan hukum akan bertindak tegas untuk mengamankan pihak-pihak yang berpotensi mengganggu ketertiban,” tegasnya, seperti dikutip dari kupastuntas.co.
Massa aksi yang berasal dari Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dijadwalkan berkumpul di depan TVRI sebelum bergerak menuju gedung DPR melalui aksi long march. Pergerakan ini diprediksi akan memicu kepadatan di sejumlah ruas jalan utama.
Untuk itu, masyarakat diimbau menghindari kawasan Jalan Gatot Subroto arah Slipi selama aksi berlangsung. Rekayasa lalu lintas juga kemungkinan diberlakukan secara situasional guna mengurai kemacetan di sekitar lokasi.
Dengan pengamanan yang terstruktur dan pendekatan yang lebih humanis, aparat berharap peringatan May Day tahun ini dapat berlangsung damai, sekaligus memberi ruang bagi buruh untuk menyampaikan aspirasi secara tertib. (*)

berdikari









