Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Rabu, 06 Mei 2026

Lampung Ekspor Perdana 3.330 Ton Tepung Tapioka ke Tiongkok

Oleh ADMIN

Berita
Gubernur Lampung Rahmad Mirzani Djausal bersama Owner Intan Group Jeremi Gozal dan Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf melepas langsung ekspor tepung tapioka senilai Rp26 miliar. Foto: Berdikari.co

Berdikari.co, Bandar Lampung - Provinsi Lampung melalui CV Central Intan, anak perusahaan Intan Group, melakukan ekspor perdana 3.330 ton tepung tapioka ke negara Tiongkok melalui Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, Selasa (5/5/2026).

Gubernur Lampung Rahmad Mirzani Djausal bersama Owner Intan Group Jeremi Gozal dan Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf melepas langsung ekspor tepung tapioka senilai Rp26 miliar tersebut.

Owner Intan Group, Jeremi Gozal, mengatakan ekspor tepung tapioka ini tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah untuk terus mendorong pelaku usaha menembus pasar luar negeri.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Lampung, terutama kepada Pak Gubernur, yang mengajarkan bahwa kita harus mengandalkan pasar internasional untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Provinsi Lampung," kata Jeremi.

Ia mengungkapkan, saat awal kepemimpinan gubernur, harga singkong tengah mengalami penurunan sehingga pelaku usaha didorong untuk mencari alternatif pasar melalui ekspor.

"Waktu pertama Pak Gubernur dilantik, harga singkong sedang parah. Kami sebagai pengusaha ditekankan untuk mencari pasar ekspor, dan ekspor perdana Intan Group ini merupakan hasil dorongan tersebut," ungkapnya.

Jeremi juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga dan pihak-pihak yang selama ini mendukung perjalanannya dalam mengembangkan usaha.

"Saya ditinggal orang tua sejak umur 19 tahun, jadi saya sangat berterima kasih kepada kakak-kakak saya dan semua pihak yang sudah mendampingi perjuangan ini," ujarnya.

Jeremi mengakui hingga kini tantangan dari sisi harga masih menjadi perhatian. "Selain ke Tiongkok kami juga melihat peluang ke Korea Selatan, Bangladesh, dan Thailand, yang sudah meminta penawaran harga," imbuhnya.

Ia berharap, ekspor tepung tapioka ini sekaligus menjadi momentum penguatan industri hilir berbasis singkong di Lampung sehingga bisa member nilai tambah serta kesejahteraan petani dan pelaku usaha lokal.

Sementara Gubernur Lampung Rahmad Mizani Djausal mengatakan, Pemerintah Provinsi Lampung menyambut positif langkah tersebut sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis ekspor dan memperkuat posisi Lampung sebagai sentra industri pengolahan hasil pertanian nasional.

“Kedepan ekspor komoditas turunan singkong diharapkan terus meningkat seiring terbukanya akses pasar global yang semakin luas,” kata Mirzani.

Mirzani mengungkapkan, keberhasilan ekspor ini menjadi bukti bahwa kualitas tapioka asal Lampung mampu bersaing dan diterima di pasar internasional, baik dari sisi mutu maupun harga.

Menurutnya, hal ini menjadi momentum penting setelah sebelumnya produk tapioka Lampung sempat kesulitan bersaing akibat harga yang tidak kompetitif di pasar global.

"Kedepan kita harus terus memperbaiki produktivitas dan kualitas tapioka. Ekspor ini membuktikan bahwa produk kita bisa diterima di dunia dan harganya mampu bersaing," ujar Mirzani.

Ia menjelaskan, meningkatnya permintaan global terhadap tapioka turut menjadi peluang besar bagi Lampung. Kenaikan konsumsi produk turunan tapioka di berbagai negara berdampak langsung pada meningkatnya harga di pasar dunia, sehingga membuka ruang bagi produk lokal untuk masuk dan bersaing.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Lampung juga tengah mendorong perbaikan ekosistem pertanian singkong di tingkat petani.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pengembangan bibit unggul singkong dengan produktivitas tinggi dan kandungan pati yang lebih besar.

"Kita ingin ada bibit unggul yang produksinya tinggi, pati atau acinya banyak, sehingga produktivitas dan pendapatan petani juga meningkat," jelasnya.

Mirzani juga menyoroti pentingnya peran kebijakan pemerintah pusat dalam menjaga stabilitas harga dan keberlangsungan industri dalam negeri.

Ia menyebut, penghentian impor tapioka menjadi salah satu langkah krusial yang memberikan ruang bagi industri lokal untuk berkembang.

"Saat harga bagus di luar, industri cenderung impor. Tapi ketika impor dihentikan, ada ruang bagi kita untuk menata kembali industri dalam negeri," katanya.

Ia menegaskan upaya meningkatkan kesejahteraan petani harus berjalan beriringan dengan penguatan sektor industri hilir.

Menurutnya, industri pengolahan memiliki peran penting dalam menyerap hasil produksi petani sekaligus meningkatkan nilai tambah.

"Kalau ingin memakmurkan petani, industrinya harus didorong. Hilirisasi itu kunci," tegasnya.

Ia juga mengapresiasi dukungan aparat kepolisian dan Satgas Pangan yang dinilai berperan dalam menertibkan tata niaga industri tapioka di Lampung, sehingga tercipta iklim usaha yang lebih kondusif.

"Tanpa dukungan aparat, akan sulit menertibkan industri. Kita tidak ingin menekan, tapi mengajak semua pihak berjalan bersama demi kemajuan," tambahnya. (*)


Editor Sigit Pamungkas