Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Kamis, 30 Desember 2021

Pasar Tradisional di Lampung Mulai Terapkan Pembayaran Digital

Oleh Berdikari

7
Berita
Pemimpin BRI Teluk Betung, Tarmizi (kiri), Walikota Bandar Lampung, Eva Dwiana (tengah), Kepala Perwakilan BI Lampung, Budiharto (kanan). Foto: Dok

Berdikari.co, Bandar Lampung - Transaksi digital menggunakan aplikasi QRIS (Quick Response Code Indonesia Standart) mulai merambah pasar tradisional di Provinsi Lampung. Sebanyak 215.000 pedagang telah memanfaatkan metode ini, 46 persennya berada di Bandar Lampung.

Hal tersebut diketahui saat Walikota Bandar Lampung, Eva Dwiana, melaunching program Sehat, Inovatif, dan Aman Pakai (SIAP) QRIS di Pasar Tamin, Kelurahan Kelapa Tiga, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Rabu (29/12).

Eva mengatakan, QRIS digunakan untuk mempermudah transaksi jual beli di pasar tradisional, sekaligus mengurangi risiko penularan Covid-19.

“Alhamdulillah Pasar Tamin sudah menjadi pasar percontohan program SIAP QRIS. Penggunaan QRIS dapat mengurangi kontak langsung pembeli dan penjual. Apalagi di saat ini sudah ada varian Omicron yang lebih cepat penularannya,” katanya.

Eva minta Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebagai bank konektor QRIS, terus mensosialisasikan cara penggunaannya kepada masyarakat.

“Di pasar kan lebih banyak ibu-ibu, jadi bagaimana caranya agar penggunaan ini harus mudah dipahami oleh mereka. Karena inikan sebenarnya lebih mudah, tinggal klik langsung terbayar,” ungkap Eva.

Eva melanjutkan, QRIS rencananya akan diterapkan juga di kafe-kafe.

“Anak muda, mahasiswa kan biasanya ke kafe. Mereka juga pasti melek teknologi, sehingga kafe yang ada 100 lebih di Bandar Lampung ini nantinya juga akan kita sosialisasikan bersama Bank Indonesia agar Bandar Lampung segera menuju smart city,” ujarnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Budiharto Setyawan mengatakan, selama 2021 ini sudah ada 215 ribu pedagang di Provinsi Lampung menggunakan QRIS untuk pembayaran digital.

“Target kita untuk pengguna QRIS di Provinsi Lampung sampai tahun 2021 itu 150 ribu pedagang. Namun tembus sampai 215 ribu pedagang. Dari angka tersebut, 46 persennya, atau sekitar 98.900 pedagang, berada di Bandar Lampung,” katanya.

Dijelaskan Budiharto, hal itulah yang menjadi alasan pemerintah pusat menjadikan Bandar Lampung sebagai tempat percontohan penggunaan QRIS di pasar tradisional.

“Tak hanya peningkatan jumlah pengguna atau pemasangan barcode, kita juga adakan kegiatan sosialisasi baik kepada penjual dan pembeli sehingga transaksi atau penggunaan pembayaran digital semakin banyak dilakukan,” ujarnya.

Ia berharap, QRIS tak hanya diterapkan Pasar Tamin namun juga pasar-pasar lain di Bandar Lampung bisa. Sebab, cara ini menjadi salah satu langkah pemulihan ekonomi khususnya di Kota Bandar Lampung.

Tarmizi, Pemimpin Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Teluk Betung, mengatakan sebanyak 100 pedagang dari 150 pedagang di Pasar Tamin, sudah terapkan QRIS untuk pembayaran digital.

Ia menjelaskan, pedagang lain di Pasar Tamin yang ingin pasang QRIS, bisa datang langsung ke semua cabang kantor BRI di Bandar Lampung.  

“Di Bandar Lampung, ada 24 unit kantor yang siap memprosesnya. Apalagi yang sudah punya rekening BRI, akan lebih mudah,” kata dia.

Ia menjelaskan untuk pedagang yang akan memasang barcode QRIS di tokonya, cukup membuat rekening bank sebagai penampungannya. Proses pendaftaran pemasangan barcode QRIS gratis.

“Kalau untuk pembeli, bisa bayar dari rekening bank apapun. Begitupun melalui e-money seperti Dana, OVO atau Gopay juga bisa. Cukup dengan scan barcode,” imbuhnya.

Pedagang di Pasar Tamin berharap pemerintah dan bank terus menggiatkan edukasi penggunaan QRIS baik kepada penjual maupun pembeli.

“Penggunaan QRIS sebagai alat pembayaran digital ini cukup baik, tinggal edukasinya saja yang perlu digencarkan kepada pedagang dan konsumen,” kata Nazaruddin, pedagang di Pasar Tamin.

Ia mengaku, baru tahu jika pembayaran digital juga bisa menggunakan aplikasi e-money.

“Saya awalnya hanya tahu pakai m-banking saja, dan ternyata pakai Gopay dan Ovo juga bisa. Lalu untuk pembeli juga perlu diedukasi. Karena kemarin ada pembeli yang bilang ke saya hanya bisa bayar lewat QRIS dengan bank yang sama dengan rekening penjualnya. Padahal kan semua akun bank bisa,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, saat ini sudah cukup banyak pembeli yang membayar melalui QRIS. “Kebanyakan pegawai sama ojek online yang bayar pakai QRIS. Kalau ibu-ibu rumah tangga masih kurang,” ujarnya.

Darti, pedagang sayuran di Pasar Tamin, mengaku belum banyak pembeli di tokonya yang membayar menggunakan QRIS. Sebagian besar pembeli membayar menggunakan uang tunai.

“Soalnya saya dagang sayuran, jadi masih sedikit yang pakai QRIS. Rata-rata kaum ibu bayarnya pakai uang tunai,” ungkapnya.

Alvian, seorang pembeli di Pasar Tamin menuturkan, program pembayaran digital di pasar tradisional sangat bermanfaat.

“Di masa pandemi ini, kita takut juga kalau ada penularan virus Covid-19 melalui perantara uang tunai. Jadi kalau bayar digital kan lebih aman,” ujarnya. (*)

Artikel ini sudah terbit di SKH Kupas Tuntas edisi Kamis, 30 Desember 2021 dengan judul "Transaksi Digital Rambah Pasar Tradisional" 


Editor Sigit Pamungkas