Logo

berdikari

Jumat, 05 Agustus 2022

Ganti Rugi 1 Juta dari PT HK Bagi Korban Lempar Batu Dinilai Tidak Logis

Oleh ADMIN

10
Berita
Foto : Ist.

Berdikari.co, Bandar Lampung - PT Hutama Karya belum memberikan pengamanan yang maksimal terhadap kendaraan yang melintasi Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Dampaknya, aksi lempar batu terhadap kendaraan di jalan tol Lampung oleh orang tak dikenal hingga kini masih terus terjadi.

Pelemparan batu kembali menimpa bus Damri rute Lampung-Bandung di JTTS KM 69-70 Tanjung Bintang, Lampung Selatan, pada Rabu (3/8) sekitar pukul 21.30 WIB.

Akibat kejadian tersebut, kaca pintu bus Damri sebelah kiri pecah, dan tangan sopir bernama Yahya Surip Hidayat mengalami luka terkena serpihan kaca yang pecah .

General Manager (GM) Damri Cabang Lampung, Ferdik Sakona, mengatakan pelemparan batu terhadap bus Damri terjadi di JTTS KM 69-70 Tanjung Bintang, Lampung Selatan.

“Kejadiannya Rabu malam mengenai bus Damri nomor polisi BE-7839-CU. Rupanya kejadian pelemparan batu ini sudah beberapa kali terjadi namun selama ini bus kami selalu bisa lolos,” kata Ferdik, Kamis (4/8).

Ferdik mengungkapkan, pelemparan batu kali ini mengenai kaca bus Damri samping kiri hingga pecah. Sopir bus juga terluka pada bagian tangannya karena terkena serpihan kaca.

Akibat kejadian itu, seluruh penumpang dipindahkan ke bus lain dan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan yakni Bandung. Ia mengungkapkan, banyak penumpang bus yang komplain karena lewat jalan tol ternyata tidak aman.

Ferdik menuturkan, pihaknya langsung melaporkan kejadian pelemparan batu itu ke pos pintu masuk gerbang tol Itera dan dan pos polisi yang ada di pintu masuk tol Itera.

Ia minta PT Hutama Karya (HK) selaku pengelola JTTS bisa lebih melakukan antisipasi untuk mencegah kembali terjadi aksi lempar batu. "Prinsipnya kami minta pihak tol untuk lebih memperketat pengamanan di sekitar daerah yang paling rawan. Karena pelemparan ini sudah satu minggu berturut-turut. Kita juga Damri sudah dua kali kena pelemparan ini. Ada juga bus swasta yang melintas sekitar situ yang juga kena lempar," ungkapnya.

Ferdik melanjutkan, PT HK sudah memberikan ganti rugi sebesar Rp1 juta untuk sopir yang terluka dan kaca bus Damri yang pecah terkena lemparan batu.

"Iya tadi sore sudah diselesaikan. PT HK sudah ganti kerugian Rp1 juta baik untuk kaca yang pecah maupun bantuan pada sopir yang luka,” ungkapnya.

Sementara itu, Branch Manager JTTS ruas tol Bakauheni–Terbanggi Besar, Hanung Hanindito saat dihubungi mengatakan, pelemparan batu terjadi pada kendaraan bus plat nomor BE-7839-CU di sekitar KM 70+000 sampai dengan KM 69+600 Jalur B di Jalan Tol Ruas Bakauheni–Terbanggi Besar pada Rabu,(3/8) sekitar pukul 21.30 WIB.

Hanung menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi di lapangan, bus BE-7839-CU melaju dari arah Bandar Lampung menuju Bakauheni. "Setibanya di lokasi kejadian kendaraan tersebut terkena lemparan batu yang mengakibatkan kaca pintu kiri bagian depan pecah. Lalu pengemudi melaporkan kejadian pelemparan ke call center ruas Bakauheni–Terbanggi Besar," kata Hanung, Kamis (4/8).

Hanung menerangkan, PT Hutama Karya telah berkoordinasi dengan Damri Regional Sumbagsel dan memberikan ganti kerugian terhadap kerusakan yang ditimbulkan.

Ia mengimbau kepada masyarakat tidak melakukan hal serupa karena sangat membahayakan pengguna jalan tol dan merupakan tindakan melanggar hukum.

"Koordinasi juga kami tingkatkan ke desa-desa sekitar jalan tol untuk dapat secara bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban," imbuhnya.

Pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Sumatera (Itera), Muhammad Abi Berkah Nadi, mengatakan sering terjadinya aksi lempar batu di jalan tol Lampung mengindikasikan pengendara di jalan tol belum bisa dijamin keamanan dan kenyamanannya.

"Seharusnya apabila ada korban sampai luka atau meninggal karena aksi lempar batu itu harus ada ganti rugi oleh PT HK selaku pengelola jalan tol Sumatera," kata dia, Kamis (4/8).

Ia menjelaskan, jika mengacu pada pasal 87 dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 15 Tahun 2005 tentang jalan tol disebutkan pengguna tol berhak menuntut ganti rugi kepada badan usaha atas kerugian akibat kesalahan dari badan usaha jalan tol.

Selain itu kata Abi, dalam pasal 92 disebutkan badan usaha wajib mengganti rugi yang diderita oleh pengguna jalan tol sebagai akibat kesalahan dari badan usaha dalam pengusahaan jalan tol.

"Untuk besaran nominal ganti ruginya tentu itu merupakan hasil dari kesepakatan kedua belah pihak. Besaran nilai ganti rugi berdasarkan kerusakan yang dialami. Namun bila ada sampai luka atau cacat ringan/berat jika hanya diganti rugi Rp1 juta itu tidak logis. Karena dalam aturan jika sampai terjadi kecelakaan lalu lintas  mengakibatkan luka dikenakan ganti rugi hingga Rp20 juta berdasarkan tingkat luka yang didapatkan,” papar dia.

Menurutnya, tingginya tarif jalan tol Sumatera belum sebanding dengan pelayanan yang diberikan. Masih ditemukan kurangnya lampu penerang pada perlintasan tol sumatera saat malam hari, dan rambu-rambu lalu lintas. “Bila perlu dipasang CCTV agar bisa mengetahui pelaku tindak kriminal agar bisa segera diatasi,” ungkapnya. (*)

Editor Qhasmal Qhadumi