Logo

berdikari

Jumat, 05 Agustus 2022

Pemprov Usut Penurunan Debit Air di Tanggamus Pasca PT Tirta Investama Beroperasi

Oleh ADMIN

7
Berita
Plt Kepala Dinas ESDM Provinsi Lampung, Hery Sadli

Berdikari.co, Bandar Lampung - Pemprov Lampung, melalui Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), menurunkan tim untuk menindaklanjuti keluhan petani di Kabupaten Tanggamus terkait menyusutnya debit air di sumber mata air Galih Batin sejak PT Tirta Investama beroperasi 2015 lalu.

Hal itu dilakukan merespon surat yang dikirimkan Sekretariat Daerah Kabupaten Tanggamus kepada Pemprov Lampung.

Dalam surat itu Pemkab Tanggamus meminta bantuan Pemprov Lampung mengecek penyebab menyusutnya debit mata air Galih Batin yang diduga akibat beroperasinya PT Tirta Investama, perusahaan yang memproduksi air mineral dalam kemasan (AMDK) merek Aqua.

"Dinas ESDM Provinsi Lampung telah menerima surat dari Sekretaris Daerah Kabupaten Tanggamus. Langkah awal kami telah tindaklanjuti dengan melakukan tinjauan lapangan untuk mengumpulkan informasi terkait permasalahan tersebut," kata Plt Kepala Dinas ESDM Provinsi Lampung, Hery Sadli, Kamis (4/8).

Menurutnya, Dinas ESDM Provinsi Lampung menyiapkan tim untuk melakukan peninjauan ke lapangan guna melakukan verifikasi faktual dan pengambilan data lebih detail, sesuai kewenangan Dinas ESDM Provinsi Lampung.

Hery membeberkan, data yang akan diambil terkait dengan air dan tanah. Tinjauan lapangan tersebut rencananya akan dilaksanakan Minggu depan.

Sebelumnya, petani di Pekon Kotaagung, Kecamatan Kotaagung, dan Pekon Teba, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus, mengeluhkan penyusutan debit air di sumber mata air Galih Batin yang diduga akibat eksploitasi air bawah tanah oleh PT Tirta Investama.

Akibat eksploitasi itu, puluhan hektar sawah milik petani kekurangan pasokan air. Padahal, sebelum pabrik Aqua berdiri, petani tidak pernah kekurangan pasokan air.

Selain itu, perusahaan memproduksi air kemasan Aqua itu juga sudah menyedot air dari wilayah lembah Gunung Tanggamus yang mengakibatkan sejumlah sawah kekurangan air hingga menurunkan produksi hasil pertanian.

Keluhan petani tersebut juga sudah disampaikan dalam pertemuan dengan perwakilan PT Tirta Investama yang difasilitasi DPRD Tanggamus berlangsung di kantor DPRD Tanggamus, Selasa (19/7).

Dalam pertemuan yang dipimpin Wakil Ketua III DPRD Tanggamus, Kurnain, perwakilan petani sawah Zainadi mengatakan perusahaan Aqua tidak hanya memanfaatkan mata air dan air permukaan, tetapi juga mengebor air bahwa tanah sehingga terjadi penurunan muka air tanah. Akibatnya, pasokan air ke sawah berkurang.

Menurut Zainadi, sejak Aqua beroperasi tahun 2015 lalu, sawah milik petani sering mengalami kekurangan air. Bahkan ada beberapa lahan sawah tidak bisa digarap lagi karena mengalami kekeringan. Untuk itu, Ia meminta perusahaan mengecek untuk membuktikan keluhan para petani.

“Kami berharap keluhan kami bisa diperhatikan oleh PT Tirta Investama dan menghentikan penyedotan air di mata air Galih Batin karena telah mengakibatkan kurangnya debit air yang mengaliri sawah warga,” kata Zainadi.

Zainadi pun menampik pernyataan pihak perusahaan yang menyebut sumber mata air Galih Batin sudah mengalami kekeringan dari tahun 2013 sebelum perusahaan beroperasi.

“Pernyataan itu sangat keliru bahkan mengandung fitnah sebagai dalil untuk menghindari tanggung jawab. Sumber mata air tersebut tidak pernah mengalami kekeringan dan perusahaan itu mulai beroperasi tahun 2015,” ujar Zainadi.

Wirnos, Seksi Regional Sumatera perwakilan PT Tirta Investama, belum bersedia memberikan banyak keterangan.

"Bukan kapasitas saya untuk memberikan keterangan, itu merupakan domain orang pusat,” kata Wirnos berdalih.

Sementara itu, Wakil Ketua III DPRD Tanggamus, Kurnain, mengatakan diundangnya perwakilan petani dan perusahaan selain menindaklanjuti surat laporan petani sawah di dua kecamatan tersebut juga untuk berdiskusi mencarikan solusi agar konflik tersebut berakhir damai, serta tidak ada pihak yang dirugikan.

“Kami hanya memfasilitasi dan memediasi kedua belah pihak terkait persoalan yang muncul, dengan harapan ada titik temu agar kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan,” kata Kurnain.

Ia mengungkapkan, dalam pertemuan itu pihak perusahaan belum bisa memenuhi permintaan warga untuk menghentikan penyedotan air, dan masih akan melakukan pengkajian terlebih dahulu terkait permasalahan tersebut.

"Permasalahan ini akan segera kami diskusikan ke dinas terkait untuk mencarikan solusinya,” lanjut dia. (*)

Editor Qhasmal Qhadumi