Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Rabu, 20 September 2023

Dampak Jual-Beli Online, Puluhan Pedagang Simpur Center Gulung Tikar

Oleh ADMIN

Berita
Tampak beberapa kios di tempat perbelanjaan Simpur Center tutup karena sepi pembeli. Foto: Berdikari.co

Berdikari.co, Bandar Lampung - Puluhan kios pedagang di Simpur Center, Bandar Lampung, menutup kiosnya karena sepi pembeli. Maraknya jual-beli online diduga menjadi pemicu puluhan pedagang setempat gulung tikar.

Pantauan di Simpur Center, Selasa (19/9/2023), terlihat ada puluhan kios pedagang dalam kondisi tutup. Kondisi tersebut sudah berlangsung selama lima bulan terakhir.  

Aisah, seorang pedagang pakaian di Simpur Center menuturkan sudah ada puluhan pedagang yang kini menutup kiosnya karena omzet penjualan terus mengalami penurunan. Kondisi seperti itu sudah terjadi selama lima bulan terakhir.

"Pengunjung Simpur Center sekarang ini sudah banyak yang beli secara online. Padahal kualitas produk kami tidak kalah bagus. Cuma mungkin beli di online lebih murah," kata Aisah saat ditemui di kiosnya, Selasa (19/9/2023).

Aisah mengungkapkan, maraknya jual-beli online menjadi faktor utama pengunjung Simpur Center mengalami penurunan drastis. Dampaknya, omzet penjualan pedagang juga ikut menurun.

Aisah mengaku, sejak 5 bulan terakhir pendapatan dari menjual pakaian sudah tidak mampu untuk membayar sewa kios miliknya. Jika kondisinya juga tidak membaik, ia mengatakan kemungkinan besar juga akan menutup kiosnya.

"Sewa kios saya ini sebulan Rp4,5 juta. Kadang saya harus nombok untuk bayar sewa kios karena pendapatan dari penjualan pakaian terus menurun,” ungkapnya.

Yuni, pedagang pakaian lainnya mengatakan selain berdagang di Simpur Center, ia juga menjual pakaian secara online melalui media sosial Tiktok, Instagram dan Facebook.

Namun, karena pengikut di akun media sosialnya masih sedikit sehingga belum mampu untuk memaksimalkan penjualan pakaian.

"Saya sudah coba juga jualan online lewat Tiktok sama Facebook, tapi masih kalah sama mereka karena sering menggelar promo dan juga melakukan pengiklanan (endorse) dengan para selebgram ternama," kata Yuni.

Yuni menerangkan, para penjual online juga kerap melakukan live di Tiktok dengan menjual pakaiannya lebih murah. Mereka bisa melakukan hal itu karena tidak memikirkan biaya sewa kios.

“Maraknya penjualan secara online inilah yang kini membuat pedagang kecil konvensional seperti kami terpaksa harus gigit jari bahkan terancam gulung tikar,” ungkapnya.

Yuni berharap manajemen Simpur Center bisa memberikan keringanan sewa kios kepada para pedagang yang kini terus mengalami penurunan omzet.

Sementara, Legal Corporate Simpur Center, Syech Hud Ismail mengatakan, saat ini ada sudah ada sejumlah pedagang yang menutup kiosnya karena omzetnya terus menurun.

Namun, lanjut Ismail, hal tersebut tidak mempengaruhi kunjungan pembeli ke Simpur Center untuk berbelanja. "Tidak kita pungkiri bahwa memang ada sebagian kecil pedagang yang terdampak penjualan online, bahkan ada kios yang sudah tutup. Tapi sejauh ini pengunjung Simpur Center masih tetap ramai," klaim Ismail.

Ismail menduga sebagian pedagang menutup kiosnya karena kurang semangat dalam menjajakan dagangannya. Sehingga sudah menyerah saat pendapatan mengalami penurunan.

"Bisa jadi pedagang itu kurang bersemangat. Karena sepengetahuan kami tidak jarang juga pedagang itu yang hanya berjualan musiman saja," katanya.

Ismail mengatakan, sewa kios di Simpur Center bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. "Untuk sewa toko disini bervariasi mulai dari harga sekitar Rp500 ribu hingga Rp5 juta per bulan. Itu sudah ada ketentuan dari manajemen langsung," katanya. (*)

Editor Sigit Pamungkas