Berdikari.co, Bandar
Lampung - Produksi kopi robusta di Kabupaten Lampung Barat (Lambar) tahun 2023
mengalami penurunan drastis sebanyak 2.729 ton. Tahun 2023, produksi kopi
robusta di Lambar sebanyak 53.325,8 ton. Sedangkan tahun 2022 jauh lebih banyak
yakni 56.054 ton.
Kepala Dinas Perkebunan
dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Lambar, Yudha Setiawan melalui Kepala
Bidang (Kabid) Perkebunan, Sumarlin mengatakan, pada tahun 2022 lalu produksi
kopi robusta mencapai 56.054 ton. Dan pada tahun 2023 turun menjadi 53.325,8
ton
"Produksi kopi
robusta tahun 2023 per hektar sebanyak 1.046,1 kilogram. Jumlah tersebut
mengalami penurunan dibanding tahun 2022 yang rata-rata bisa mencapai 1.123
kilogram per hektar," kata Sumarlin, Selasa (16/1/2024).
Meskipun produksi
menurun, para petani kopi di Lambar terbantu dengan harga jual di pasaran yang
cukup tinggi. Saat ini harga kopi mencapai Rp 40 ribu per kilogram untuk jenis
asalan dan bisa lebih tinggi untuk kopi kualitas premium.
"Karena memang
biasanya ketika produksi mulai turun maka harga cenderung naik, jadi para
petani masih terbantu. Itu sudah menjadi hukum pasar ketika stok banyak harga
turun dan ketika stok sedikit harga naik," jelasnya.
Sumarlin menerangkan,
saat ini Lambar memiliki luasan lahan kopi 54.104 hektar. Namun yang
menghasilkan kopi hanya 49.563 hektar. Dan idealnya dalam satu hektar bisa
ditanami 2.000-2.500 batang kopi.
Meskipun tahun 2023
mengalami penurunan, pihaknya memprediksi produksi kopi tahun 2024 akan
mengalami kenaikan sebesar 13-30 persen.
"Karena kita
melihat dari pembungaannya yang bagus setelah musim kemarau panjang yang
melanda kemarin. Sehingga kemungkinan akan terjadi kenaikan hasil produksi dari
tahun sebelumnya. Kita tentu berharap hal itu terjadi," ujarnya.
Ia mengatakan, salah
satu faktor penyebab turunnya produksi kopi adalah adanya hama kutu putih yang
menyerang tanaman kopi.
Sumarlin menjelaskan,
hama kutu putih menyerang dan merusak ranting-ranting batang kopi, kemudian
menjalar ke bagian ranting lain. Munculnya hama kutu putih merupakan dampak
fenomena El Nino yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Para petani
harus waspada terhadap hama kutu putih ini, karena sudah mulai menyerang
tanaman kopi para petani yang secara langsung akan berdampak terhadap
produktivitas kopi di tahun 2024 mendatang jika tidak segera diatasi,"
paparnya.
Ia melanjutkan, hama
kutu putih menyerang tanaman kopi para petani sejak beberapa bulan terakhir.
Saat ini ada sekitar 5 hingga 10 persen tanaman kopi di Lambar terserang hama
kutu putih ini.
Hama kutu putih
biasanya juga menyebar melalui tanaman tumpang sari yang ditanam di dekat
tanaman kopi warga seperti tanaman cabai. Hama kutu putih sangat cepat menular
ke tanaman lain.
Ia mengimbau kepada
para petani yang tanaman kopinya terdampak hama kutu putih segera melapor ke
Disbunnak Lambar agar bisa segera dilakukan penanganan.
“Kami juga akan
membuat laporan ke Pemerintah Provinsi Lampung dan kementerian. Kami berharap
permasalahan ini bisa kita antisipasi sejak dini untuk membantu para petani
yang terdampak," pungkasnya. (*)

berdikari









