Berdikari.co, Lampung Timur - Di sebuah rumah
sederhana di Dusun Way Handak, Desa Labuhanratu Dua, Kecamatan Way Jepara,
Kabupaten Lampung Timur, seorang bayi mungil tengah berjuang melawan penyakit
berat. Fais Jaya, yang baru berusia hampir dua bulan, harus bertahan hidup
dengan kondisi jantung bocor dan paru-paru kempes.
Minggu siang (23/3/2025), suasana di rumah itu terasa sunyi. Emilia, sang
ibu, tampak dengan penuh kasih menidurkan Fais Jaya di atas kasur kecil di
ruang tamu. Selang kecil yang terpasang di hidung bayi mungil itu menjadi saksi
bisu perjuangannya. Di balik sorot mata Emilia, tersirat kekhawatiran sekaligus
harapan besar untuk buah hatinya.
Fais Jaya lahir pada 3 Februari 2025 lalu. Kebahagiaan Emilia dan suaminya,
Sarif, seketika berubah menjadi kecemasan setelah dokter di RSUD Abdul Moeloek,
Bandar Lampung, mendiagnosis Fais menderita jantung bocor dan paru-paru kempes.
“Setelah tiga hari lahir, Fais langsung dibawa ke rumah sakit karena
kondisinya lemah. Dokter bilang anak saya menderita dua penyakit serius itu,”
ujar Emilia dengan suara bergetar.
Selama 45 hari, Fais dirawat intensif di RSUD Abdul Moeloek. Selang
dipasang di hidungnya untuk membantu pernapasan dan memasukkan susu. Bahkan,
selang lain harus ditempatkan di perutnya untuk membuang kotoran.
“Saat lahir, kondisinya sudah seperti ini. Sejak itu, Fais harus menjalani
perawatan intensif. Kami hanya bisa pasrah dan berharap ada jalan keluar,”
ungkap Sarif, sang ayah.
Bukan hanya kondisi kesehatan Fais yang menjadi beban berat, tetapi juga
biaya perawatan yang harus ditanggung keluarganya. Sarif yang bekerja sebagai
buruh serabutan dengan penghasilan tak menentu, harus memikirkan biaya
transportasi untuk kontrol rutin ke rumah sakit.
“Saya hanya buruh serabutan. Kadang dapat kerja, kadang tidak. Tapi sekarang
saya lebih banyak di rumah merawat Fais. Kami harus ke rumah sakit sesuai
jadwal dokter, tapi biayanya besar. Belum lagi susu dan obat-obatan,” ujar
Sarif dengan mata berkaca-kaca.
BPJS Kesehatan memang menanggung biaya perawatan medis, tetapi biaya operasional,
transportasi, dan kebutuhan sehari-hari tetap menjadi beban keluarga ini.
Emilia pun tak bisa bekerja karena harus merawat Fais sepanjang waktu.
“Kami benar-benar berharap ada bantuan dari pemerintah, terutama Dinas
Sosial. Fais harus dirawat ekstra, setiap dua jam sekali harus diberi susu
melalui botol yang tersambung dengan selang. Itu semua butuh biaya,” tambahnya.
Meskipun kondisi Fais masih lemah, kedua orang tuanya tidak berhenti
berusaha. Mereka terus berharap ada uluran tangan dari masyarakat dan
pemerintah agar Fais bisa menjalani pengobatan yang lebih baik.
“Sebagai orang tua, rasanya sangat berat melihat anak kami seperti ini.
Tapi kami tidak punya pilihan selain terus berjuang,” ujar Sarif sembari
menatap Fais yang terbaring lemah.
Di balik tubuh mungilnya, Fais Jaya adalah pejuang kecil yang tengah berusaha mengalahkan penyakitnya. Harapan masih ada, selama masih ada kepedulian dan doa dari banyak orang. Informasi bantuan hubungi nomor ini 088287217839. (*)