Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Senin, 05 Januari 2026

65 Kebakaran Terjadi di Metro Lampung Sepanjang 2025

Oleh Arby Pratama

Berita
Kepala Bidang (Kabid) Damkarmat Satpol PP Kota Metro, Marwan Hakim, saat dikonfirmasi di depan Kantor Pemerintah Kota Metro. Foto: Arby

Berdikari.co, Metro - Data resmi Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Satpol PP Kota Metro mencatat 65 kejadian kebakaran yang terjadi dari Januari hingga Desember 2025.

Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan deretan peristiwa yang menghanguskan rumah warga, bangunan usaha, fasilitas pendidikan, kendaraan, hingga merenggut korban jiwa dan menimbulkan luka-luka.

Kepala Bidang (Kabid) Damkarmat Satpol PP Kota Metro, Marwan Hakim, mengungkapkan bahwa tren kebakaran di Metro masih didominasi oleh korsleting listrik dan kebocoran tabung gas LPG, dua persoalan klasik yang hingga kini belum sepenuhnya tertangani secara sistemik.

"Dari seluruh kejadian yang kami tangani, penyebab terbanyak berasal dari korsleting listrik dan kebocoran tabung gas LPG. Ini terjadi hampir merata di semua kecamatan,” kata Marwan, saat dikonfirmasi awak media, Senin (5/1/2026).

Jika ditelisik lebih dalam, Triwulan III yang terhitung mulai Juli hingga September 2025 menjadi periode paling rawan dengan 23 kejadian kebakaran, disusul Triwulan IV sebanyak 17 kejadian, Triwulan II sebanyak 16 kejadian, dan Triwulan I sebanyak 9 kejadian. Pola ini menunjukkan peningkatan signifikan pada paruh kedua tahun berjalan.

Sejumlah peristiwa mencatatkan kerugian material yang sangat besar, mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Kebakaran rumah, bangunan pendidikan seperti TK Khodijah, kios dan warung, hingga mobil dan alat berat pertanian menjadi penyumbang kerugian terbesar.

"Beberapa kejadian memang berdampak besar secara ekonomi, terutama kebakaran rumah, kendaraan, dan bangunan usaha. Bahkan ada yang mencapai ratusan juta rupiah,” ungkap Hakim, seperti dikutip dari kupastuntas.co.

Tak hanya kerugian materi, data Damkarmat juga mencatat adanya korban jiwa dan korban luka, khususnya pada kasus kebocoran gas LPG dan kebakaran rumah.

Fakta ini mempertegas bahwa kebakaran di Metro bukan lagi sekadar insiden ringan, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan warga.

Di tengah tingginya angka kejadian, Damkarmat Kota Metro mengklaim waktu tanggap yang relatif cepat. Berdasarkan data, petugas rata-rata tiba di lokasi dalam waktu 1 hingga 10 menit sejak laporan diterima. Bahkan, pada beberapa kasus hanya membutuhkan 1–2 menit karena jarak yang sangat dekat.

"Kami berupaya maksimal menjaga response time. Petugas selalu siaga 24 jam, termasuk untuk evakuasi dan penyelamatan,” tegasnya.

Namun, cepatnya respons pemadaman tidak otomatis menyelesaikan persoalan utama. Tingginya kasus kebakaran justru mengindikasikan lemahnya upaya pencegahan, baik dari sisi edukasi masyarakat, pengawasan instalasi listrik, hingga standar keamanan penggunaan LPG di rumah dan tempat usaha.

Maraknya kebocoran tabung gas LPG dan korsleting listrik yang berulang hampir di setiap triwulan menunjukkan adanya bom waktu di kawasan permukiman padat Kota Metro.

Instalasi listrik yang tidak standar, penggunaan regulator gas berkualitas rendah, hingga minimnya kesadaran keselamatan menjadi kombinasi berbahaya yang terus berulang setiap tahun.

Marwan Hakim menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam menekan angka kebakaran. Menurutnya, petugas tidak akan pernah cukup jika kesadaran pencegahan masih rendah.

"Kami terus mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa instalasi listrik, regulator, dan selang gas. Pencegahan adalah kunci utama agar kejadian serupa tidak terus berulang,” katanya.

Catatan 65 kebakaran sepanjang 2025 seharusnya menjadi peringatan keras bagi semua pihak, bukan hanya Damkarmat. Pemerintah daerah, kelurahan, RT/RW, hingga pengelola bangunan publik dan usaha dituntut lebih serius membangun sistem pencegahan kebakaran yang terukur dan berkelanjutan.

Tanpa langkah konkret, Kota Metro berpotensi terus mengulang siklus tahunan: pemadaman cepat, kerugian besar, korban berjatuhan, lalu lupa hingga api kembali menyala. (*)

Editor Didik Tri Putra Jaya