Berdikari.co, Bandar Lampung - Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Mikdar Ilyas, menilai belum terserapnya secara maksimal beras SPHP di Lampung perlu dikaji dan dievaluasi secara serius.
Menurut
Mikdar, program pemerintah yang bertujuan menekan harga beras dan membantu
masyarakat seharusnya dapat terserap secara maksimal.
“Kalau
ini tidak tercapai, harus dievaluasi. Penyalurannya melalui Bulog, jadi perlu
dipelajari kenapa peminatnya kurang. Apakah karena harganya, kualitas berasnya,
atau penyalurannya yang tidak maksimal,” kata Mikdar, Selasa (13/1/2026).
Ia
membeberkan, beras SPHP di Lampung disalurkan melalui 949 kios mitra, sehingga
seharusnya mudah dijangkau masyarakat. Karena itu, ia mempertanyakan rendahnya
penjualan beras SPHP tersebut.
“Ini
salah satu program untuk menekan dan menstabilkan harga beras di pasaran.
Sangat membantu kebutuhan masyarakat. Kita sayangkan tidak tercapai. Nanti akan
kami bahas di Komisi II apa kendalanya,” ujarnya.
Mikdar
menegaskan, Komisi II DPRD Lampung akan mendalami penyebab rendahnya penjualan
beras SPHP. Jika persoalan terletak pada kualitas, maka harus segera
diperbaiki. Begitu juga jika ditemukan kendala dalam distribusi.
“Kalau
kualitasnya kurang bagus, harus diperbaiki. Kalau penyalurannya bermasalah,
harus diatasi. Program ini sangat membantu masyarakat, terutama menengah ke
bawah. Jangan sampai tidak tercapai,” tegasnya.
Ia
juga menilai, proses pengolahan beras yang sudah menggunakan mesin seharusnya
mampu menghasilkan kualitas yang baik. Menurutnya, jika harga terjangkau dan
kualitas bagus, beras SPHP seharusnya cepat terserap pasar.
“Kalau
harganya murah dan barangnya bagus, pasti habis. Ini kan untuk menstabilkan
harga agar tidak ada gejolak di pasaran,” imbuhnya.
Mikdar
menambahkan, ke depan Komisi II DPRD Lampung berencana mengagendakan
pemanggilan Perum Bulog untuk membahas rendahnya realisasi beras SPHP sekaligus
kesiapan ketersediaan pangan menjelang bulan Ramadan. (*)

berdikari









