Berdikari.co, Bandar Lampung - Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia
(ISEI) Cabang Lampung sekaligus Akademisi Ekonomi Universitas Lampung (Unila),
Usep Syaipudin, menilai tingkat penyerapan beras SPHP yang rendah disebabkan
oleh persepsi kualitas dari masyarakat.
"Menurut saya, kualitas. Karena kebutuhan pokok, tentu masyarakat akan
mengutamakan kualitas. Persepsi tentang kualitas yang rendah sangat
mempengaruhi minat masyarakat," kata Usep, Selasa (13/1/2026)
Selain persoalan kualitas, Usep menambahkan faktor kemasan, strategi
pemasaran dan distribusi juga ikut mempengaruhi. Ia menilai efektivitas
distribusi SPHP Bulog Lampung pada 2025 sebenarnya mengalami kemajuan, namun
belum merata di seluruh wilayah.
"Sebagian daerah masih sulit mendapatkan akses ke beras SPHP sehingga
distribusinya belum merata," katanya.
Menurut Usep, rendahnya penyerapan SPHP berdampak pada upaya stabilisasi
harga beras di pasaran. Kondisi tersebut dapat memicu harga beras kembali naik
dan mengurangi kepastian pasokan pangan di masyarakat. Selain itu, petani juga
berpotensi menerima harga gabah yang tidak optimal.
Usep merekomendasikan empat langkah perbaikan agar program beras SPHP lebih
tepat sasaran, yakni perbaikan kualitas produk, peningkatan promosi dan
sosialisasi kepada masyarakat, pembenahan jalur distribusi, serta kerja sama
dengan pedagang.
"Pelibatan pedagang penting agar distribusi lebih efektif dan
menjangkau konsumen secara langsung," tandasnya. (*)

berdikari









