Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Sabtu, 17 Januari 2026

Wali Murid TK di Sekincau Lampung Barat Diduga Dapat Tekanan Usai Viralkan Menu MBG

Oleh Echa wahyudi

Berita
Screenshot salah satu pesan WA dari seseorang diduga Kepala Dapur SPPG Sekincau yang mengancam kepada Wali Murid usai mengkritisi menu MBG. Foto: Ist

Berdikari.co, Lampung Barat – Seorang wali murid di salah satu sekolah taman kanak-kanak di Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, diduga mengalami intimidasi dan tekanan setelah menyampaikan kritik terhadap menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anaknya. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (15/1/2026) dan menjadi perhatian publik setelah foto, video, serta tangkapan layar percakapan beredar luas di media sosial.

Persoalan bermula dari unggahan foto menu MBG yang diterima siswa. Dalam foto yang diperoleh, makanan terlihat hanya terdiri dari nasi, tempe, buah salak, timun, kol, serta potongan daging fillet berukuran kecil.

Menu tersebut memicu kekhawatiran sejumlah orang tua murid mengenai kecukupan gizi, terutama bagi anak usia taman kanak-kanak. Mereka menilai komposisi makanan belum mencerminkan kebutuhan nutrisi anak usia dini.

Salah satu wali murid kemudian menyampaikan kritik sebagai bentuk masukan agar menu MBG dapat dievaluasi. Namun, langkah tersebut justru berujung pada dugaan intimidasi.

Dalam sebuah video berdurasi 5 menit 24 detik yang diterima redaksi, terdengar suara seorang pria dan seorang perempuan yang diduga sebagai pemilik atau pengelola dapur MBG mendatangi langsung wali murid tersebut. Percakapan di antara mereka membahas menu MBG yang tengah viral dan berlangsung dalam suasana tegang.

Dalam rekaman itu, wali murid menjelaskan bahwa kritik yang disampaikan murni sebagai bahan evaluasi.

“Maksudnya saya tanya itu apa, biar jadi evaluasi ke depannya. Masa anak TK dikasih menu seperti itu, apalagi ada kol mohon maaf bu,” ujarnya.

Ia juga menegaskan tidak memiliki kepentingan pribadi atau tujuan mencari perhatian publik.

“Saya cuma mengkritik. Enggak ada unsur pengen terkenal, enggak ada bekingan. Karena wali murid yang lain itu enggak ada yang berani mengkritik,” katanya.

Wali murid tersebut berharap kritik yang disampaikan dapat ditindaklanjuti tanpa berdampak pada keberlangsungan program.

“Kan enggak mungkin dapurnya langsung ditutup,” ujarnya.

Namun dalam video yang sama, seorang pria yang diduga pemilik dapur MBG menyampaikan pernyataan yang dinilai menyudutkan.

“Cuma pengen terkenal aja,” ucap pria tersebut berulang kali.

Ia juga menilai kritik seharusnya disampaikan langsung, bukan melalui media sosial.

“Kritik itu boleh, tapi sampai ke tempatnya. Jangan kayak gitu caranya, itu namanya membongkar aib,” katanya.

Pria tersebut bahkan mempersilakan wali murid datang langsung ke dapur.

“Kalau mau main ke dapur silakan, di video boleh, difoto boleh. Kritik kan,” ujarnya.

Sementara itu, seorang perempuan yang juga terdengar dalam video menyampaikan kekhawatiran bahwa kritik tersebut dapat berdampak pada banyak pihak.

“Jangan sampai gara-gara satu dua wali murid, satu sekolah jadi kena. Nanti kepala sekolahnya kena, murid yang lain juga kena,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa kritik terhadap dapur seharusnya disampaikan melalui jalur tertentu.

“Kami itu dikritik dari atasan, dari sekolah, bukan dari wali murid,” katanya.

Perempuan itu juga menyebutkan bahwa perubahan menu bukan menjadi kewenangan pihak dapur.

“Menu diperbaiki, menu dirubah itu urusan ahli gizi. Kita di sini bosnya aja enggak bisa ngatur besok makan ayam atau telur,” ujarnya.

Selain didatangi langsung, wali murid juga menerima pesan pribadi bernada tekanan dari seseorang yang mengaku sebagai Kepala Dapur SPPG Sekincau. Beberapa pesan yang diterima redaksi di antaranya berbunyi, “Ini makanan bergizi gratis bukan makan enak gratis,” serta, “Kalau tidak mau apa-apa mending diam.”

Dalam video yang sama, perempuan tersebut juga menyampaikan pernyataan yang dinilai sebagai ancaman untuk membawa persoalan ini ke jalur hukum.

“Kita tunggu 24 jam, kalau enggak selesai juga baru kita proses. Media sudah banyak kirim-kirim ini, sudah sampai ke Bandar Lampung,” ucapnya.

Ia juga menyatakan akan melibatkan pihak sekolah jika persoalan terus berlanjut.

“Kalau kepala sekolah lepas tangan, kita urus dianya,” katanya.

Rangkaian pernyataan dalam video dan pesan pribadi tersebut memunculkan dugaan adanya intimidasi terhadap wali murid yang menyampaikan kritik. Wali murid berharap masukan yang ia berikan tidak dipersepsikan sebagai serangan, melainkan sebagai upaya memperbaiki kualitas program MBG bagi anak-anak.

Sementara itu, Ketua Satgas MBG Lampung Barat, Ahmad Hikami, menegaskan bahwa kritik dari masyarakat merupakan hal yang wajar selama bersifat membangun.

“Pada prinsipnya kritik boleh banget, kritik kan untuk masukan dan ke yang lebih baik, tim Satgas Kecamatan juga sudah ke lokasi,” kata dia singkat, Sabtu (17/1/2026). (*)


Editor Sigit Pamungkas