Berdikari.co, Bandar Lampung - Taman Nasional Way Kambas (TNWK) disepakati
menjadi pilot project konservasi dari 57 taman nasional di Indonesia. Untuk
itu, persoalan konflik gajah dan manusia harus segera diselesaikan dan tidak
boleh terus berulang.
Hal
tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat mengunjungi
TNWK bersama Pangdam XXI/Raden Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Ketua DPRD
Lampung Ahmad Giri Akbar, serta Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, Sabtu
(24/1/2026).
Mirzani
mengatakan pembangunan pembatas permanen menjadi solusi utama dalam
menanggulangi konflik antara gajah dan warga desa penyangga di sekitar TNWK
yang telah berlangsung puluhan tahun.
Ia
mengungkapkan pihaknya telah berdialog langsung dengan kepala desa, camat,
serta tokoh masyarakat desa penyangga TNWK guna menyerap aspirasi untuk
menyelesaikan konflik gajah dan manusia.
“Kami
menerima banyak masukan dari masyarakat. Ada yang wilayahnya rawa, semak, dan
tanggul kurang tinggi, bahkan ada yang membutuhkan tambahan personel penjagaan
malam,” ujar Mirzani.
Ia
menjelaskan selama ini sudah ada tanggul yang dibangun oleh pemerintah
kabupaten. Namun, karena masih berupa tanggul tanah, fungsinya belum optimal.
“Setiap
musim hujan tanggul longsor, dan gajah masih bisa melintas. Ini keterbatasan
kabupaten, sehingga harus dibuat tanggul permanen agar benar-benar menjadi
solusi jangka panjang,” tegas Mirzani.
Mirzani
menambahkan pemerintah pusat telah melakukan survei teknis sebagai langkah awal
pembangunan pembatas permanen antara kawasan TNWK dan desa penyangga.
Saat
ini, survei telah selesai dan akan segera ditindaklanjuti dengan penyusunan
feasibility study.
“Panjangnya
hampir 70 kilometer. Pembatas ini harus didesain agar tidak mengganggu
aktivitas gajah maupun manusia dan bisa berlaku secara berkelanjutan,” jelasnya.
Mirzani
melanjutkan penanganan konflik gajah di Way Kambas menjadi perhatian khusus
Presiden Prabowo Subianto. Bahkan, kata Mirzani, isu konservasi ini turut
menjadi pembahasan Presiden Prabowo saat bertemu Pangeran Charles di Inggris.
“Way
Kambas disepakati menjadi pilot project konservasi dari 57 taman nasional di
Indonesia. Ini harus segera diselesaikan karena konflik gajah dan manusia tidak
boleh terus berulang,” kata Mirzani.
Sementara
itu, Pangdam XXI/Raden Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan TNI siap
membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam mitigasi konflik gajah dan
manusia.
“Kami
siap membantu sesuai permintaan masyarakat. Di dekat Way Kambas juga ada
Batalyon Teritorial Pembangunan yang bisa diperbantukan untuk menjaga wilayah
penyangga,” kata Pangdam.
Namun,
Pangdam menekankan pentingnya sinkronisasi SOP (standar operasional prosedur),
termasuk penentuan jumlah personel, lokasi penugasan, serta koordinasi dengan
masyarakat.
“Kami
siap kapan pun diminta, tapi perlu kejelasan wilayah dan kebutuhannya agar
efektif,” ujar Pangdam.
Kepala
Taman Nasional Way Kambas, Zaidi, menambahkan selain pembangunan tanggul
permanen, pihaknya juga mengupayakan peningkatan kesejahteraan Masyarakat Mitra
Polhut (MMP).
“Kami
sedang mengusulkan peningkatan honor MMP ke kementerian, serta pembangunan
gubuk-gubuk jaga untuk mendukung pengamanan kawasan,” katanya.
Zaidi
menjelaskan dari total 122 kilometer batas kawasan TNWK dengan desa penyangga,
saat ini masih dalam tahap pemetaan dan survei oleh tim design engineer.
“Kondisi
tapaknya beragam, ada rawa, tanah keras, dan sungai. Model tanggulnya tentu
akan berbeda-beda. Ini masih dalam proses kajian,” pungkasnya. (*)

berdikari









