Berdikari.co, Bandar Lampung – Iklim investasi di Provinsi Lampung menunjukkan pemulihan kuat sepanjang 2025. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, realisasi investasi di daerah ini justru melesat dan menembus rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DMPTSP) Provinsi Lampung, nilai investasi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai Rp15,195 triliun atau 141,2 persen dari target Rp10,760 triliun.
Kepala DMPTSP Provinsi Lampung, Samsurijal, menyebut capaian tersebut sebagai lonjakan signifikan dibandingkan periode-periode sebelumnya.
"Angka Rp15,1 triliun ini adalah capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Dari target Rp10,7 triliun, realisasi kita mencapai Rp15,196 triliun atau over target," kata Samsurijal saat dimintai keterangan, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, tren positif ini menandai kembalinya kepercayaan pelaku usaha terhadap Lampung setelah investasi sempat berfluktuasi sejak masa pandemi Covid-19.
"Di masa kepemimpinan Pak Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, capaian investasi Lampung menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dan membanggakan," ujarnya.
Dari sisi sektor usaha, industri makanan masih menjadi penopang utama dengan nilai investasi mencapai Rp4,049 triliun. Kontribusi besar juga datang dari sektor pertambangan sebesar Rp1,9 triliun, listrik, gas, dan air Rp1,8 triliun, perdagangan dan reparasi Rp1,4 triliun, serta sektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan Rp1,3 triliun.
"Secara umum distribusi investasi antar sektor cukup merata, meskipun industri makanan masih menjadi sektor paling dominan," jelas Samsurijal.
Secara geografis, Kota Bandar Lampung menjadi wilayah dengan nilai investasi terbesar, yakni Rp3,835 triliun, disusul Kabupaten Lampung Selatan Rp3,040 triliun, Lampung Tengah Rp2,087 triliun, Tanggamus Rp1,946 triliun, dan Lampung Utara Rp791,741 miliar.
Namun, jika dihitung berdasarkan persentase pencapaian terhadap target, Kabupaten Tanggamus menempati posisi teratas.
"Dari target Rp550 miliar, realisasi investasi di Tanggamus mencapai Rp1,9 triliun atau sekitar 300 persen. Disusul Lampung Utara yang merealisasikan Rp790 miliar dari target Rp350 miliar, serta Tulang Bawang dengan realisasi Rp750 miliar dari target Rp352 miliar," kata dia.
Realisasi investasi tersebut turut berdampak pada penyerapan tenaga kerja, dengan total 24.097 orang terserap sepanjang 2025.
"Dari sisi sumber investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi dengan nilai Rp12,743 triliun atau 83,86 persen. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp2,451 triliun atau 16,13 persen," sambungnya.
Samsurijal menilai capaian ini merupakan hasil pendekatan aktif pemerintah provinsi kepada investor, termasuk upaya membangun kepastian dan iklim usaha yang kondusif.
"Pak Gubernur secara aktif meyakinkan investor bahwa Lampung terbuka dan menguntungkan untuk berinvestasi. Pemerintah daerah juga berupaya menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan investor," ujarnya.
Untuk tahun 2026, target investasi masih dibahas bersama Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Namun, proyeksi awal berada di kisaran Rp13 triliun hingga Rp14 triliun.
Selain itu, sejumlah investor yang hadir dalam Forum Investasi Lampung (FOILA) di Jakarta disebut telah menindaklanjuti peluang penanaman modal, terutama di sektor energi dan teknologi.
"Beberapa investor sudah berkomunikasi dengan kami untuk menjajaki potensi yang ditawarkan Lampung. Proses investasi tentu membutuhkan waktu, tidak bisa langsung terealisasi dalam waktu singkat," pungkasnya. (*)

berdikari









