Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Jumat, 30 Januari 2026

Rektor Unila: Hanya 20 Persen Lulusan SMA/SMK Lanjutkan Kuliah

Oleh ADMIN

Berita
Rektor Universitas Lampung (Unila), Lusmeilia Afriani, saat memberikan sambutan pada Dies Natalis ke-58 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila yang digelar di Gedung Aula K FKIP Unila, Kamis (29/1/2026). Foto: Berdikari.co

Berdikari.co, Bandar Lampung - Rektor Universitas Lampung (Unila), Lusmeilia Afriani, menyebut dari sekitar 110 ribu lulusan SMA dan SMK di Provinsi Lampung, hanya sekitar 20 persen yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Hal tersebut disampaikan Lusmeilia Afriani saat memberikan sambutan pada Dies Natalis ke-58 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila yang digelar di Gedung Aula K FKIP Unila, Kamis (29/1/2026).

Lusmeilia meminta seluruh pihak dapat berkontribusi bersama dalam meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan tinggi di Provinsi Lampung.

“Masih ada pekerjaan rumah besar bagi kita semua, di mana APK peminatan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi masih cukup rendah,” ujar Lusmeilia.

“Lampung saat ini berada di peringkat 35 dari 38 provinsi di Indonesia terkait minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk meningkatkan kualitas dan minat pendidikan di Lampung,” lanjutnya.

Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya merasa cukup ketika anak-anak mereka hanya lulus SMA atau SMK. Pendidikan tinggi menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.

“Perlu adanya motivasi yang besar. Di sinilah FKIP Unila diharapkan dapat menjadi motor penggerak pendidikan di Lampung, dengan berpijak pada riset, kepekaan sosial, dan semangat kolaborasi berkelanjutan,” ujar Lusmeilia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico, mengatakan terdapat sejumlah persoalan mendasar yang menyebabkan rendahnya APK pendidikan tinggi di Lampung.

“Salah satu yang paling krusial adalah rendahnya mimpi dan aspirasi pendidikan anak sejak usia dini,” kata Thomas.

Thomas mengatakan, berdasarkan hasil riset yang dilakukannya, banyak anak usia sekitar tujuh tahun di daerah belum memiliki cita-cita besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau ke kota besar.

“Ketika ditanya ingin menjadi apa, jawabannya masih sangat sederhana dan belum mengarah pada pendidikan tinggi. Ini berdampak pada rendahnya harapan lama sekolah,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, data riset menunjukkan hanya sekitar enam persen lulusan sekolah yang mampu lolos Ujian Tertulis Berbasis Kompetensi (UTBK) setiap tahunnya.

Di sisi lain, siswa dengan kemampuan akademik dan ekonomi yang baik cenderung memilih melanjutkan pendidikan ke kota besar dan enggan masuk ke perguruan tinggi lokal.

“Masalah muncul ketika mereka tidak lolos seleksi perguruan tinggi nasional, sementara perguruan tinggi lokal dinilai belum mampu mengakomodasi karena perbedaan standar nilai dan keterbatasan daya tampung. Akibatnya, banyak anak akhirnya tidak melanjutkan kuliah atau beralih ke perguruan tinggi swasta,” katanya.

Thomas menilai kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam penguatan sumber daya manusia (SDM) lokal di Lampung. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk mendorong peningkatan APK pendidikan secara berkelanjutan. (*)

Editor Sigit Pamungkas