Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Jumat, 30 Januari 2026

Warga Soroti Proyek Irigasi PUPR di Way Tenong, Struktur Dinilai Rawan Rusak

Oleh Echa wahyudi

Berita
Proyek irigasi di Way Tenong yang dikeluhkan warga. Foto: Ist

Berdikari.co, Lampung Barat - Sorotan terhadap kualitas proyek infrastruktur di Kabupaten Lampung Barat kembali mencuat. Setelah sebelumnya masyarakat mengeluhkan kondisi proyek jalan yang cepat mengalami kerusakan, kini perhatian publik tertuju pada proyek rehabilitasi jaringan irigasi milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang dinilai tidak dikerjakan secara maksimal.

Proyek yang dipersoalkan merupakan kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi di Kecamatan Way Tenong PWT dengan nomor kontrak 600/23/KTR/RJI.10/III.03/II/2025. Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh CV Muara Artha berdasarkan kontrak tertanggal 17 September 2025 dengan nilai anggaran Rp178.025.000 dan masa pelaksanaan selama 90 hari kalender.

Meski proyek itu disebut telah rampung pada akhir tahun 2025, warga setempat mengaku mulai meragukan kualitas hasil pengerjaan. Irigasi yang seharusnya menjadi penopang utama aktivitas pertanian justru dikhawatirkan tidak memiliki ketahanan jangka panjang.

Redaksi menerima rekaman video berdurasi sekitar 25 detik yang memperlihatkan kondisi bangunan irigasi tersebut. Dalam video itu terlihat pasangan batu yang disusun tidak rapi, serta terdapat sejumlah rongga kosong di antara batuan yang tidak terisi adukan semen secara merata.

Secara umum, bangunan irigasi memang tampak berdiri kokoh dan belum menunjukkan kerusakan berarti. Namun, hasil pengamatan lebih dekat, khususnya pada bagian yang tertutup tanah galian, memperlihatkan banyak celah kosong yang menimbulkan kekhawatiran akan kekuatan struktur bangunan tersebut.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyampaikan, kondisi tersebut berpotensi membuat bangunan irigasi cepat rapuh, terlebih saat debit air meningkat. Ia menilai, pasangan batu yang tidak terisi adukan semen secara penuh dapat mempengaruhi daya tahan bangunan.

“Kalau dilihat sekilas memang seperti tidak ada masalah, tapi setelah diperhatikan lebih dekat, banyak bagian yang kosong di dalamnya. Kami khawatir nanti cepat rusak, apalagi kalau debit air tinggi,” ujar warga saat memberikan keterangan, Jumat (30/1/2026).

Keluhan senada juga datang dari warga lainnya yang mempertanyakan kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis proyek. Menurutnya, pada bagian sisi luar bangunan irigasi tidak terlihat adanya finishing yang semestinya, seperti plesteran atau pengacian.

“Di sisi luar tidak diplester, tidak ada pengacian sama sekali. Ini jadi pertanyaan bagi kami, apakah memang seperti itu spesifikasinya atau pekerjaannya yang tidak maksimal, dengan anggaran yang telah digelontorkan kami berhak tau dong seperti apa spesifikasinya," kata warga tersebut.

Warga menilai, kondisi itu mengindikasikan penggunaan material yang tidak optimal, terutama pada komposisi campuran semen dan pasir. Kekhawatiran pun muncul bahwa struktur irigasi tersebut tidak akan bertahan lama jika terus digunakan tanpa adanya perbaikan.

Sebagai fasilitas vital bagi sektor pertanian, jaringan irigasi diharapkan mampu berfungsi maksimal dalam jangka panjang. Karena itu, masyarakat berharap proyek yang dibiayai dari anggaran negara tersebut benar-benar dikerjakan sesuai standar teknis yang telah ditetapkan.

Warga juga meminta Dinas PUPR Lampung Barat tidak hanya mengandalkan laporan administrasi dari pihak rekanan, tetapi turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil bangunan irigasi tersebut.

“Kami berharap dinas terkait bisa datang langsung melihat kondisi di lapangan, bukan hanya berdasarkan laporan. Biar jelas apakah pekerjaan ini sudah sesuai atau belum, karena kami masyarakat menilai ini belum sesuai," ujar warga lainnya.

Selain peninjauan langsung, masyarakat juga berharap adanya penjelasan terbuka dari Dinas PUPR terkait spesifikasi teknis proyek rehabilitasi jaringan irigasi tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi negatif di tengah masyarakat. Transparansi dinilai penting mengingat proyek tersebut baru selesai dikerjakan dan menggunakan dana publik.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengairan Dinas PUPR Lampung Barat, Nyoman Sukerte, hingga berita ini diturunkan belum memberikan keterangan. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui sambungan seluler belum mendapatkan respons. (*)


Editor Sigit Pamungkas