Berdikari.co, Bandar Lampung - Satu unit mobil minibus Suzuki Carry membawa rombongan ibu-ibu kondangan terjun ke sungai saat melintas di jembatan gantung Pekon Banjar Agung Ilir, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, Senin (9/2/2026) sekitar pukul 17.30.
Kapolres Tanggamus, AKBP Rahmad Sujatmiko membenarkan kecelakaan tunggal yang dialami kendaraan minibus bernomor polisi BE 1058 UU.
“Benar, hasil identifikasi petugas kendaraan ini membawa rombongan penumpang pulang menghadiri acara kondangan," ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Rahmad mengungkapkan, pihak kepolisian dari Polsek Pugung bersama Unit Laka Lantas Polres Tanggamus telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna memastikan penyebab kecelakaan tersebut.
Hasil identifikasi awal, insiden ini terjadi saat kendaraan melintas di atas jembatan gantung, kemudian tali penyangga jembatan tiba-tiba kendur sehingga posisi jembatan miring.
"Akibat kondisi jembatan dalam posisi miring hingga menyebabkan mobil minibus ini terjatuh dan terjun bebas ke dalam sungai," ungkapnya, seperti dikutip dari kupastuntas.co.
Dalam insiden tersebut, 18 penumpang berada di dalam kendaraan, dua di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis. Beruntung tidak ada korban jiwa. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan badan minibus berada di sungai, sementara jembatan gantung tampak miring. Warga sekitar bergotong royong mengevakuasi penumpang dan sopir dari dalam kendaraan.
Terkait hal itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Yusnadi, menyampaikan rasa prihatin atas kejadian tersebut.
Menurutnya, kecelakaan ini harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk mengevaluasi kondisi jembatan penghubung masyarakat yang banyak sudah berusia lama dan tidak lagi layak digunakan.
“Ini perlu menjadi perhatian khusus. Banyak jembatan dengan konstruksi lama di Lampung yang kondisinya serupa. Jangan menunggu ada korban atau kejadian viral baru dilakukan perbaikan,” tegasnya, Selasa (10/02/2026).
Ia menekankan, jembatan merupakan akses vital masyarakat, sehingga harus masuk dalam skala prioritas pembangunan dan perbaikan infrastruktur.
Yusnadi mengungkapkan, dalam rapat bersama BMBK dan kementerian terkait, telah dibahas solusi perbaikan jembatan yang dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.
Sebagai contoh, perbaikan jembatan di Kali Pasir dan Way Bungur, Lampung Timur, yang sebelumnya viral, kini telah menunjukkan progres.
Pemerintah bahkan menyiapkan pembangunan jembatan gantung sementara agar aktivitas masyarakat tetap berjalan, sambil menunggu pembangunan jembatan permanen.
“Model seperti itu juga perlu diterapkan di Tanggamus dan Lampung Tengah, jembatan gantung yang sudah tidak layak dipakai. Minimal dibuatkan jembatan gantung sementara agar mobilitas antar desa tidak terputus,” ujarnya.
Yusnadi menegaskan, pemerintah daerah harus lebih proaktif melakukan monitoring, evaluasi, dan pemeriksaan rutin terhadap jembatan-jembatan yang ada di Lampung.
“Nyawa adalah yang utama. Pembangunan jalan dan jembatan di Lampung harus menjadikan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama,” pungkasnya. (*)

berdikari









