Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Selasa, 17 Februari 2026

Kuota BBM Bersubsidi di Lampung 2026 Alami Penurunan

Oleh Siti Khoiriah

Berita
Kabid Energi pada Dinas ESDM Provinsi Lampung Sopian Atiek. Foto: Dok.

Berdikari.co, Bandar Lampung - Kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Provinsi Lampung untuk tahun 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan terjadi pada dua jenis BBM, yakni biosolar dan pertalite. Berdasarkan data PT Pertamina, alokasi biosolar untuk Lampung pada 2026 ditetapkan sebesar 779.231.000 liter.

Jumlah tersebut turun sekitar 22.973.000 liter dibandingkan kuota tahun 2025 yang mencapai 802.204.000 liter.

Penurunan juga terjadi pada kuota pertalite. Jika pada 2025 alokasinya mencapai 784.883.000 liter, maka pada 2026 turun menjadi 663.420.000 liter atau berkurang lebih dari 121 juta liter.

Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Provinsi Lampung, Sopian Atiek, mengatakan pihaknya hingga kini belum menerima surat resmi terkait penetapan kuota BBM bersubsidi tahun 2026.

"Kita masih menunggu surat resminya untuk penetapan kuota BBM tahun 2026. Kami sudah komunikasi dengan BPH Migas, katanya masih proses di internal," ujar Sopian, seperti dikutip dari kupastuntas.co, Selasa (17/2/2026).

Menurut dia, Pemerintah Provinsi Lampung sebenarnya telah mengusulkan adanya penambahan kuota BBM bersubsidi sebesar 15 persen dari tahun sebelumnya.

Usulan tersebut mengacu pada tingginya realisasi penyaluran sepanjang 2025, khususnya untuk biosolar yang bahkan melampaui kuota awal.

"Kalau untuk BBM, kita mengusulkan ada penambahan cukup besar, sampai dengan 15 persen," jelasnya.

Ia mengungkapkan, pada 2025 kuota biosolar Lampung sempat habis tersalurkan sebelum akhir tahun.

Pemerintah daerah kemudian memperoleh tambahan kuota sekitar 11,9 juta liter atau hampir 12 ribu kiloliter. Dari tambahan tersebut, tersisa sekitar 6.606 kiloliter.

"Untuk biosolar, kuota sudah habis tersalurkan. Lalu mendapat tambahan hampir 12 ribu kiloliter. Dari kuota tambahan itu, masih tersisa 6.606 kiloliter," bebernya.

Berbeda dengan biosolar, penyaluran pertalite justru tidak melampaui kuota tahunan. Hingga Desember 2025, realisasi penyaluran pertalite hanya mencapai 88,46 persen dari total kuota, dengan sisa sekitar 86.350 kiloliter.

Rendahnya konsumsi pertalite, lanjut Sopian, dipengaruhi selisih harga yang tidak terlalu jauh dengan BBM nonsubsidi seperti pertamax. Kondisi ini mendorong sebagian pengguna kendaraan memilih BBM nonsubsidi.

"Kalau pertalite ini kan pengguna kendaraan kecil banyak yang beralih ke nonsubsidi, seperti pertamax," tuturnya. (*)

Editor Didik Tri Putra Jaya