Berdikari.co, Lampung Barat - Kondisi Danau Asam di Pekon Sukamarga, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, menjadi sorotan setelah volume airnya dilaporkan terus mengalami penyusutan dalam beberapa bulan terakhir. Perubahan drastis tersebut memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap masa depan salah satu destinasi wisata unggulan di wilayah Bumi Sekala Bekhak itu.
Pantauan di lokasi menunjukkan penurunan permukaan air danau cukup signifikan. Pada Desember 2025 lalu, air Danau Asam masih terlihat tinggi dan hampir menyentuh titian dermaga yang biasa digunakan wisatawan. Namun kondisi terkini memperlihatkan perubahan mencolok, di mana bebatuan yang sebelumnya terendam kini muncul ke permukaan, sementara hamparan pasir mulai terlihat di bibir danau.
Perubahan tersebut memunculkan dugaan bahwa penyusutan air tidak semata disebabkan faktor alam. Sejumlah pihak menilai proyek revitalisasi yang dilakukan pemerintah pusat pada akhir 2025 diduga turut memengaruhi berkurangnya volume air danau.
Danau Asam selama ini dikenal memiliki air berwarna hijau tosca yang menjadi daya tarik utama wisatawan. Keindahan alam tersebut menjadikan danau sebagai ikon wisata sekaligus kebanggaan masyarakat setempat. Karena itu, perubahan kondisi danau dinilai berpotensi mengancam sektor pariwisata dan perekonomian warga sekitar.
Di salah satu sisi danau terlihat bekas pekerjaan revitalisasi berupa tanggul yang telah dibuka. Dari celah tersebut, air danau tampak terus mengalir keluar tanpa pengendalian yang jelas. Kondisi ini disebut telah berlangsung cukup lama tanpa adanya upaya nyata untuk mengatur kembali debit air.
Sejumlah struktur beronjong memang dipasang di sekitar lokasi, namun keberadaannya dinilai belum efektif menahan aliran air. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan masyarakat mengenai perencanaan teknis proyek revitalisasi, terutama terkait dampak jangka panjang terhadap keberlangsungan danau.
Warga setempat menyebut perubahan kondisi Danau Asam mulai terasa sejak proyek revitalisasi dilaksanakan pada akhir tahun lalu. Penyusutan air terjadi secara bertahap namun terus berlanjut hingga saat ini.
“Sejak proyek itu dibuka, air danau mulai surut sedikit demi sedikit. Sekarang kelihatan sekali bedanya, jauh lebih rendah dari sebelumnya,” ujar seorang warga Suoh, Minggu (22/2/2026).
Menurut warga, dalam hitungan bulan saja kondisi danau sudah berubah cukup drastis. Mereka khawatir penyusutan air akan terus terjadi apabila tidak segera dilakukan penanganan.
“Kalau tidak segera ditangani, lama-lama bisa kering. Ini danau kebanggaan kami, sayang kalau rusak gara-gara proyek yang manfaatnya pun belum diketahui masyarakat secara pasti seperti apa,” tegasnya.
Selain sebagai objek wisata, Danau Asam juga memiliki fungsi ekologis penting bagi lingkungan sekitar Kecamatan Suoh. Danau tersebut menjadi bagian dari keseimbangan alam sekaligus sumber identitas kawasan yang selama ini menarik kunjungan wisatawan lokal maupun luar daerah.
Informasi yang dihimpun menyebutkan proyek revitalisasi bertujuan membuka lahan rawa di sekitar danau. Untuk mendukung kegiatan tersebut, air danau dialirkan keluar guna mengeringkan area rawa. Namun kebijakan tersebut dinilai berisiko terhadap kelestarian ekosistem yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Minimnya informasi terbuka mengenai kajian lingkungan proyek juga menjadi perhatian masyarakat. Warga mempertanyakan sejauh mana analisis dampak lingkungan dilakukan sebelum pelaksanaan revitalisasi dimulai.
Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek tersebut, termasuk meninjau kembali pembukaan tanggul yang menyebabkan air terus keluar dari danau. Langkah cepat dinilai penting agar penyusutan air tidak semakin parah dan Danau Asam tetap terjaga sebagai destinasi wisata unggulan Lampung Barat.
Penyusutan Danau Asam menjadi pengingat bahwa pembangunan dan revitalisasi kawasan wisata harus berjalan seimbang dengan prinsip kehati-hatian dan perlindungan lingkungan, agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari. (*)

berdikari









