Berdikari.co, Bandar Lampung - Pelaksanaan program Makan Bergizi
Gratis (MBG) di sejumlah daerah di Provinsi Lampung menuai sorotan. Orang tua
siswa di Kabupaten Tanggamus, Lampung Barat, hingga Kota Metro mengeluhkan
kualitas makanan, kelengkapan menu, hingga dugaan ketidaksesuaian dengan
standar gizi dan anggaran program.
Keluhan
paling mencolok terjadi di Kabupaten Tanggamus setelah ditemukan roti berjamur
dalam paket MBG yang dibagikan kepada siswa pada Selasa (24/2/2026). Temuan
tersebut terjadi di beberapa sekolah, di antaranya SDN 1 Tugu Papak Kecamatan
Semaka, SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin, serta SDN 1 Pulau Benawang
Kecamatan Kotaagung Barat.
Informasi
yang dihimpun Kupas Tuntas, paket MBG tersebut salah satunya didistribusikan
oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Talagening, Kecamatan Kotaagung
Barat. Video temuan roti berjamur juga beredar luas di media sosial dan memicu
reaksi keras dari para wali murid.
Neni,
wali murid di SDN 1 Pulau Benawang, mengaku kecewa saat mendapati roti yang
diterima anaknya sudah tidak layak konsumsi.
"MBG hari ini SDN 1 Pulau Benawang macam apa ini, rotinya sudah ada
jamurnya kok masih dibagikan," ujarnya.
Menu
MBG yang dibagikan selama dua hari itu terdiri dari berbagai paket, antara lain
dua roti, kelengkeng, kurma, puding, telur rebus, dan jeruk. Paket lainnya
berisi roti kering, kurma, puding, abon, roti gandum kemasan, roti bolu, telur
rebus, serta minuman kemasan. Ada pula paket berisi jajanan pasar, susu cair,
kacang polong kering, roti bolu, jeruk, dan kurma.
Sejumlah
orang tua menilai komposisi menu tersebut belum mencerminkan gizi seimbang,
baik dari sisi protein, serat, maupun higienitas penyajian. Salimah, wali murid
di Kotaagung Barat, mengatakan anaknya juga menerima roti dalam kondisi
berjamur.
"Anak-anak yang mengonsumsi seharusnya kualitas dan kebersihan
diperhatikan. Ini roti sudah jamuran masih dibagikan. Kalau sampai dimakan bisa
keracunan," katanya.
Warga
juga mempertanyakan kesesuaian menu dengan nilai anggaran MBG yang disebut
berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per siswa per hari.
"Kalau memang anggarannya sebesar itu, seharusnya menu lebih layak dari
sisi kualitas maupun penyajian," ujar Lastri, wali murid di Kecamatan
Semaka.
Tokoh
masyarakat Tanggamus, Anom, meminta pemerintah daerah segera melakukan evaluasi
menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG. Menurutnya, pengawasan keamanan pangan
harus diperketat agar tujuan program benar-benar tercapai.
"Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan klarifikasi sekaligus
memastikan program MBG berjalan sesuai standar," katanya.
Keluhan
serupa juga muncul di Kabupaten Lampung Barat. Wali murid di Kecamatan Batu
Brak dan Belalau menilai paket MBG selama Ramadan terlalu sederhana karena satu
paket harus dikonsumsi siswa untuk tiga hari. Paket tersebut berisi biskuit
kemasan, minuman sari kedelai, dua butir telur, apel, roti, dan kurma.
Salah
satu wali murid menilai asupan tersebut belum mencukupi kebutuhan gizi anak
usia sekolah dasar.
"Kalau dihitung-hitung, isinya sedikit sekali untuk tiga hari. Anak-anak
tetap butuh protein, vitamin, dan energi untuk belajar," ujarnya.
Orang
tua siswa juga mempertanyakan transparansi penggunaan anggaran. Mereka menilai,
jika anggaran benar berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per siswa per hari,
seharusnya kualitas menu yang diterima lebih baik dan variatif. Sejumlah wali
murid bahkan mengusulkan agar selama Ramadan bantuan dialihkan dalam bentuk
uang tunai agar kebutuhan gizi anak dapat diatur langsung oleh keluarga.
Di
Kota Metro, keluhan muncul dari orang tua siswa SDN 2 Metro Timur. Pada hari
yang sama, siswa hanya menerima tiga butir telur puyuh rebus dan satu buah apel
merah, disertai surat permohonan maaf dari SPPG Iringmulyo karena menu tidak
dapat didistribusikan secara lengkap akibat kendala internal.
Dalam
surat tersebut dijelaskan bahwa menu seharusnya berisi dua roti tawar, tiga
telur puyuh, satu slice keju, dan apel untuk porsi besar. Namun roti dan keju
tidak terdapat dalam paket yang diterima siswa.
Iwan,
salah satu orang tua siswa, mengaku heran dengan kondisi tersebut.
"Bukannya semakin baik, ini kok malah berkurang. Kemarin susunya tidak
ada, sekarang cuma apel dan tiga telur puyuh. Maksudnya apa?" katanya.
Ia
meminta Pemerintah Kota Metro segera melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap
pengelolaan MBG. Menurutnya, orang tua berhak mengetahui rasionalitas
penggunaan anggaran program.
Kepala
SDN 2 Metro Timur, Zulkarnaen, membenarkan adanya kekurangan menu saat
distribusi. Ia mengatakan pihak sekolah telah berkoordinasi dengan SPPG sebelum
pembagian dilakukan.
"Kebetulan sebelum MBG dibagikan sudah koordinasi dulu. Memang bahannya
kurang dan di dalam kotak ada surat pemberitahuan," ujarnya.
Menurut
Zulkarnaen, pihak SPPG berjanji akan melengkapi kekurangan menu tersebut pada
distribusi berikutnya.
"Kata SPPG, besok akan dipenuhi dan kekurangan hari ini akan
dilengkapi," katanya. (*)

berdikari









