Berdikari.co, Bandar Lampung - Antrean LPG 3 kilogram di Kabupaten Lampung Barat disebut terjadi karena jadwal pengiriman ke wilayah tersebut tidak dilakukan setiap hari. Distribusi gas bersubsidi itu umumnya hanya dua kali dalam sepekan.
Kepala Bidang Energi pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Lampung, Sopian Atiek, mengatakan jarak pengiriman yang cukup jauh menjadi salah satu faktor terbatasnya frekuensi distribusi ke pangkalan di Lampung Barat.
“Kalau di Lampung Barat karena jaraknya jauh, pengiriman ke pangkalan biasanya hanya dua kali dalam seminggu. Jadi ketika mobil pengangkut datang, warga langsung mengantre sejak proses bongkar muat,” kata Sopian, Kamis (5/3/2026).
Ia menilai kondisi tersebut masih tergolong normal, terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri ketika permintaan mulai meningkat.
“Memang ini menjelang Lebaran permintaan mulai naik. Tapi untuk penyaluran sampai hari ini masih normal sesuai jadwal,” ujarnya.
Sopian memastikan hingga 5 Maret 2026 sebagian besar pangkalan di wilayah tersebut masih memiliki sisa stok LPG 3 kilogram. Pengiriman berikutnya dijadwalkan kembali pada 7 Maret 2026.
“Per 5 Maret masing-masing pangkalan masih ada sisa stok, dan 7 Maret nanti ada pengiriman lagi,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya terus memantau perkembangan di lapangan. Jika terjadi lonjakan kebutuhan yang signifikan, pemerintah daerah akan mengusulkan tambahan pasokan kepada Pertamina.
“Saya sudah minta ke Pertamina, kalau nanti memang diperlukan akan ada penambahan pasokan,” kata Sopian.
Ia menambahkan, Pertamina telah menyiapkan skema penambahan distribusi menjelang Idul Fitri. Pada H-7 Lebaran, pasokan LPG 3 kilogram direncanakan bertambah hingga 50 persen dari kuota normal. Selain itu, pada 19 dan 21 Maret akan dilakukan tambahan distribusi hingga 100 persen untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan saat libur.
Menurut Sopian, konsumsi saat ini sebenarnya belum mencapai puncaknya karena penggunaan masih sebatas untuk memasak sahur dan berbuka puasa.
“Biasanya lonjakan besar itu beberapa hari menjelang Lebaran, saat masyarakat mulai membuat kue dan memasak dalam jumlah banyak,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan agar distribusi LPG bersubsidi tetap merata dan dapat dinikmati warga yang berhak.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Lampung menerima kuota LPG 3 kilogram tahun 2026 sebanyak 219.740 metrik ton dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. Sementara realisasi konsumsi sepanjang 2025 mencapai 235.097 metrik ton atau melampaui kuota yang ditetapkan.
Dengan kuota yang relatif terbatas, potensi kekurangan tetap ada apabila konsumsi kembali melebihi alokasi. Pemprov Lampung menyatakan tetap memiliki ruang untuk mengusulkan penambahan kuota melalui sistem Monitoring Actualisasi Penyaluran milik Pertamina jika terjadi lonjakan kebutuhan di tengah tahun.
Dalam evaluasi distribusi, Sopian juga menekankan pentingnya kepatuhan agen dan pangkalan terhadap aturan. Sesuai ketentuan, pangkalan hanya diperbolehkan menyalurkan maksimal 10 persen LPG ke pengecer guna menjaga harga tetap sesuai Harga Eceran Tertinggi.
Hingga akhir 2025, jumlah pangkalan LPG di Lampung tercatat sekitar 7.800 unit dengan tambahan 17 agen baru. Namun, jumlah tersebut dinilai belum ideal.
"Idealnya dua kali lipat dari yang ada sekarang agar distribusi lebih merata,” pungkasnya. (*)
Berita ini telah terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas edisi Jumat 06 Maret 2026 dengan judul “Sopian Atiek: Pengiriman LPG 3 Kg ke Lampung Barat Tidak Setiap Hari”

berdikari









