Logo

berdikari BERITA LAMPUNG

Kamis, 09 April 2026

Janji Manis Berujung Neraka Laut, Aji Pulang dari Merauke dengan Luka dan Trauma

Oleh ADMIN

Berita
Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, saat mengunjungi kediaman keluarga Aji pada Kamis (9/4/2026). Foto: Ist.

Berdikari.co, Lampung Selatan - Seorang pemuda asal Kecamatan Kalianda menjadi korban dugaan sindikat calo tenaga kerja kapal ikan setelah menjalani kerja paksa selama berbulan-bulan di Merauke, Papua Selatan, sebelum akhirnya dipulangkan ke kampung halamannya pada Rabu malam (8/4/2026).

Korban, Ahmad Abi Ar-Razi alias Aji, diduga terjerat iming-iming pekerjaan bergaji tinggi yang justru berujung pada eksploitasi dan penderitaan panjang di kapal ikan.

Kepulangan Aji disambut haru oleh keluarga di kediamannya di Lingkungan 05 Sukajadi, Kalianda. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Sosial turut mendampingi proses pemulangannya dari Bandara Radin Inten II.

Kondisi Aji saat ini memprihatinkan. Dari hasil pemeriksaan awal, ia mengalami gangguan kesehatan seperti batuk berdahak hijau, anemia, serta keluhan pada kaki yang membuatnya kesulitan berjalan normal. Dinas Kesehatan Lampung Selatan berencana menurunkan tim medis untuk memastikan pemulihan berjalan maksimal.

Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, yang langsung mengunjungi kediaman keluarga Aji pada Kamis (9/4/2026), menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut.

Ia menegaskan kasus ini harus menjadi alarm keras bagi masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran kerja tanpa kejelasan.

“Kita turut prihatin atas apa yang dialami Aji. Ini harus jadi pelajaran bagi kita semua agar lebih berhati-hati menerima tawaran pekerjaan, terutama yang tidak jelas asal-usulnya,” tegas Egi.

Lebih lanjut, Bupati Egi memastikan pemerintah daerah akan menelusuri pihak-pihak yang terlibat dalam perekrutan Aji. Jika ditemukan unsur pelanggaran hukum, proses penindakan akan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Di balik kepulangannya, tersimpan kisah pahit yang dialami Aji selama bekerja di kapal ikan. Ia mengaku awalnya dijanjikan gaji sebesar Rp5 juta per bulan. Namun setibanya di Merauke, gajinya langsung dipotong Rp4 juta dengan dalih biaya transportasi, menyisakan Rp1 juta yang diterima di awal.

Situasi semakin memburuk ketika selama kurang lebih 10 bulan bekerja, Aji hanya menerima gaji di bulan pertama. Delapan bulan berikutnya, ia tidak lagi dibayar meski tetap dipaksa bekerja dalam kondisi berat.

“Kerja bisa sampai 24 jam, mancing terus. Kaki saya sakit karena terlalu lama berdiri, sampai sekarang belum bisa normal,” ungkap Aji.

Kondisi kerja yang tidak manusiawi itu membuat fisik Aji menurun drastis. Ia juga tidak memiliki kebebasan untuk meninggalkan pekerjaan, sehingga terjebak dalam situasi yang diduga kuat sebagai praktik eksploitasi tenaga kerja.

Melihat kondisi tersebut, Bupati Egi juga mendorong Aji untuk kembali melanjutkan pendidikan setelah pulih. Ia menilai pendidikan menjadi bekal penting agar ke depan Aji memiliki pilihan kerja yang lebih baik dan aman.

“Saya sarankan Aji untuk melanjutkan sekolah, minimal lulus SMA. Tapi yang utama sekarang fokus pemulihan kesehatan dulu,” ujarnya.

Sementara itu, pihak keluarga mengaku bersyukur Aji akhirnya bisa kembali dengan selamat meski dalam kondisi lemah. Ayah Aji, Ahmad Yunus (50), menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pemulangan anaknya.

“Terima kasih kepada Bupati, Dinas Sosial, dan semua pihak yang sudah membantu Aji pulang. Kami sangat bersyukur,” ucapnya.

Kini, di tengah proses pemulihan, Aji berharap kisah yang dialaminya dapat menjadi peringatan bagi masyarakat luas agar tidak mudah tergiur tawaran kerja dengan iming-iming besar tanpa kejelasan.

“Cari kerja yang jelas, jangan sampai ketipu omongan manis orang,” pesannya. (*)

Editor Didik Tri Putra Jaya