Berdikari.co, Lampung Barat - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Barat mencatat sebanyak 11 kejadian bencana yang terjadi sepanjang Januari hingga awal April 2026.
Berbagai peristiwa tersebut didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti cuaca ekstrem, tanah longsor, selain itu juga banjir dan banjir bandang yang dipicu tingginya intensitas curah hujan di sejumlah wilayah.
Kepala BPBD Lampung Barat, Padang Priyo Utomo, mengatakan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi faktor utama meningkatnya kejadian bencana dalam beberapa bulan terakhir.
“Mayoritas kejadian dipicu oleh curah hujan tinggi yang disertai angin kencang, sehingga memicu longsor, banjir, hingga pohon tumbang di sejumlah titik,” ujarnya, seperti dikutip dari kupastuntas.co.
Peristiwa pertama terjadi pada 29 Januari 2026 di Jalan Lintas Liwa–Bukit Kemuning, tepatnya di Pekon Kota Besi, Kecamatan Batu Brak. Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan pohon tumbang dan menutup sebagian badan jalan, sehingga mengganggu arus lalu lintas.
Tim BPBD bersama masyarakat langsung melakukan pembersihan material pohon dalam waktu singkat.
Memasuki Februari, bencana banjir bandang melanda Pekon Tembelang, Kecamatan Bandar Negeri Suoh, pada 21 Februari 2026.
Luapan Sungai Way Melebui dan Way Bulok menyebabkan genangan air setinggi sekitar 50 sentimeter yang berdampak pada permukiman warga di sekitar aliran sungai.
Dua hari berselang, tepatnya 23 Februari 2026, tanah longsor terjadi di ruas Jalan Nasional Padang Tambak–Liwa di Pekon Giham Sukamaju, Kecamatan Sekincau.
Longsor terjadi di dua titik dan disertai kemiringan tiang jaringan internet ke badan jalan, yang semakin memperparah gangguan lalu lintas di lokasi tersebut.
Pada 28 Februari 2026, angin puting beliung menerjang wilayah Pekon Pemangku Inpres dan Pemangku Muara Jaya II, Kecamatan Kebun Tebu.
Bencana ini menyebabkan kerusakan pada sedikitnya empat rumah warga, dua gubuk, serta lahan sawah siap panen seluas sekitar 1,5 hektare.
Memasuki Maret, banjir kembali terjadi pada 8 Maret 2026 di Talang Balong, Pekon Sidorejo, Kecamatan Suoh.
Luapan Sungai Way Balon menyebabkan permukiman warga terendam dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter, sehingga aktivitas masyarakat terganggu.
Pada 17 Maret 2026, dua bencana terjadi dalam satu hari. Tanah longsor di ruas Jalan Lintas Liwa–Muara Dua, wilayah Sukau, menyebabkan bahu jalan amblas dan mengganggu arus lalu lintas.
Pada hari yang sama, banjir bandang juga melanda Dusun Bumi Jaya, Desa Bumi Hantatai, Kecamatan Bandar Negeri Suoh, dengan ketinggian air mencapai sekitar 30 sentimeter.
Selanjutnya, pada 21 Maret 2026, tanah longsor kembali terjadi di Jalan Lintas Liwa, Pekon Sukapura, Kecamatan Sumber Jaya. Material longsor menutup sebagian badan jalan, namun berhasil dibersihkan sehingga arus lalu lintas kembali normal.
Memasuki April, cuaca ekstrem kembali memicu pohon tumbang pada 1 April 2026 di Jalan Lintas Liwa–Gunung Kemala, Pekon Kubu Perahu, Kecamatan Balik Bukit. Kejadian ini sempat menghambat lalu lintas sebelum akhirnya ditangani oleh petugas bersama masyarakat.
Masih di hari yang sama, banjir juga terjadi di Pekon Gedung Surian, Kecamatan Gedung Surian. Derasnya aliran air menyebabkan gorong-gorong penghubung antarwilayah hanyut dan terputus, sehingga aktivitas masyarakat dan akses transportasi terganggu.
Peristiwa terakhir terjadi pada 5 April 2026 di Jembatan Way Kabul, Pekon Tanjung Raya, Kecamatan Way Tenong. Tanah longsor mengikis bahu jembatan dengan lebar sekitar 6 meter dan kedalaman sekitar 10 meter, sehingga mengganggu akses kendaraan yang melintas.
Padang Priyo Utomo menjelaskan bahwa dampak bencana yang terjadi umumnya berupa kerusakan infrastruktur, permukiman warga, serta lahan pertanian.
“Kerusakan yang terjadi bervariasi, mulai dari ringan hingga sedang, seperti rumah terdampak, jalan tertutup material longsor, hingga fasilitas drainase yang rusak,” jelasnya.
Selain itu, sejumlah kejadian juga berdampak pada terganggunya jaringan utilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat. Akses jalan yang terhambat menyebabkan distribusi barang dan mobilitas warga menjadi terganggu, terutama di wilayah yang terdampak banjir dan longsor.
Meski demikian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam seluruh rangkaian kejadian bencana tersebut. Padang menegaskan bahwa respons cepat dari tim BPBD bersama masyarakat dan instansi terkait menjadi kunci dalam meminimalisasi dampak yang lebih besar.
“Kami terus meningkatkan kesiapsiagaan dan koordinasi lintas sektor agar setiap kejadian dapat ditangani dengan cepat dan tepat,” katanya.
Padang juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih berpotensi ekstrem.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama yang tinggal di daerah rawan longsor dan bantaran sungai. Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sebaiknya segera mengamankan diri ke tempat yang lebih aman,” tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat untuk tidak mengabaikan tanda-tanda awal bencana, seperti retakan tanah, debit air sungai yang meningkat, serta pohon yang mulai miring akibat angin kencang.
Ia menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam melaporkan kejadian secara cepat kepada aparat setempat atau BPBD.
“Semakin cepat laporan diterima, maka penanganan juga bisa lebih cepat dilakukan,” tambahnya.
Selain itu, BPBD Lampung Barat terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan melalui koordinasi lintas sektor serta kesiapan personel dan peralatan di lapangan.
Upaya ini dilakukan guna memastikan setiap kejadian bencana dapat ditangani secara cepat, tepat, dan meminimalisasi risiko yang lebih besar bagi masyarakat. (*)

berdikari









