Berdikari.co, Bandar Lampung - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Garuntang, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung menuai keluhan warga setelah makanan yang dibagikan dilaporkan dalam kondisi tidak layak konsumsi dan mengalami keterlambatan distribusi.
Program yang disalurkan oleh SPPG Yayasan Alferdy Nusantara Barokah itu menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di 26 RT yang tersebar di tujuh posyandu. Namun, pada penyaluran Senin (20/4/2026), sejumlah warga mengaku menerima makanan dalam kondisi basi.
“Bu tolong dibenahi, ini nasinya sudah basi, sayurnya juga basi, semua menu tidak layak dikonsumsi,” keluh salah satu warga.
Selain kualitas makanan, keterlambatan distribusi juga menjadi sorotan. Warga yang seharusnya menerima MBG pada pukul 10.30 WIB baru mendapatkan makanan sekitar pukul 16.30 WIB. Kondisi tersebut diduga menyebabkan kualitas makanan menurun.
Koordinator Kecamatan (Korcam) SPPG Sukaraja, Bumi Waras, M. Akbar Sunjaya, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia menyebutkan, saat kejadian berlangsung, dapur penyedia MBG masih dalam proses pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Memang ada laporan makanan basi. Kami sudah konfirmasi ke dapur dan akan diganti. Kompensasinya diberikan dengan penggantian makanan sebelumnya, bahkan dua kali,” ujarnya, seperti dikutip dari kupastuntas.co, Selasa (21/4/2026).
Akbar menjelaskan, dalam proses distribusi terjadi perbedaan kondisi makanan. Sebagian makanan yang dinilai masih layak dikirim lebih awal, sementara yang didistribusikan pada sore hari justru mengalami penurunan kualitas.
Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Yayasan Alferdy Nusantara Barokah, Rani, mengakui bahwa saat program mulai berjalan pada 9 April 2026, SLHS masih dalam tahap pengurusan.
“Per hari ini SLHS-nya sudah keluar,” katanya.
Ia menambahkan, keterlambatan distribusi dipicu oleh perubahan menu serta pergantian wadah makanan, yang berdampak pada proses penyaluran di lapangan.
Ke depan, pihak penyelenggara berkomitmen memperketat pengawasan kualitas makanan sebelum didistribusikan, mulai dari rasa, suhu, hingga tekstur.
Insiden ini menjadi perhatian karena program MBG ditujukan bagi kelompok rentan. Keberadaan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi dinilai penting untuk menjamin keamanan dan kelayakan makanan yang dikonsumsi masyarakat. (*)

berdikari









