Berdikari.co, Bandar Lampung - Sebanyak 200 unit mobil listrik tercatat telah mendaftar uji KIR perdana di Kota Bandar Lampung. Kehadiran ratusan armada tersebut menjadi penanda dimulainya operasional taksi listrik di Provinsi Lampung dalam waktu dekat.
Meski dinilai sebagai langkah maju menuju transportasi ramah lingkungan, kehadiran armada baru itu juga memunculkan kekhawatiran akan bertambahnya kemacetan di sejumlah ruas jalan utama Kota Bandar Lampung.
Pakar transportasi Institut Teknologi Sumatera (Itera), Muhammad Abi Berkah Nadi, menilai kondisi lalu lintas di Bandar Lampung saat ini belum sepenuhnya siap menampung tambahan volume kendaraan, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
“Kalau melihat perbandingan lebar efektif jalan dengan volume kendaraan saat jam puncak, potensi kemacetan tentu akan semakin tinggi,” kata Abi, Sabtu (9/5/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan skema pengaturan lalu lintas yang matang sebelum armada taksi listrik mulai beroperasi secara masif.
Ia menyarankan adanya pengaturan rute khusus maupun jalur tertentu bagi armada taksi listrik agar tidak memperparah kepadatan di titik-titik rawan macet seperti kawasan Kedaton dan Jalan Sultan Agung-Antasari.
“Harus ada pengaturan jalur atau rute khusus untuk meminimalisir kemacetan di titik sentral seperti Kedaton maupun Antasari,” ujarnya.
Meski demikian, Abi mengakui keberadaan taksi listrik tetap memiliki dampak positif, khususnya dalam meningkatkan layanan transportasi di daerah yang masih minim angkutan umum.
“Taksi listrik akan sangat membantu wilayah yang masih kekurangan angkutan publik. Tinggal bagaimana pemerataan layanan transportasi itu bisa berjalan,” jelasnya.
Selain mendukung modernisasi transportasi, penggunaan kendaraan listrik juga dinilai mampu menekan tingkat polusi udara di perkotaan.
“Kita apresiasi karena kendaraan listrik memberikan dampak positif bagi lingkungan dan mendukung penggunaan energi baru terbarukan untuk jangka panjang,” katanya.
Namun Abi menegaskan, solusi utama mengatasi kemacetan di Bandar Lampung bukan sekadar menambah jenis kendaraan baru, melainkan memperkuat sistem transportasi umum massal.
Menurutnya, Kota Bandar Lampung lebih membutuhkan moda transportasi seperti bus dan kereta api yang terintegrasi, sementara taksi listrik dapat difungsikan sebagai angkutan penghubung atau feeder.
“Yang dibutuhkan Bandar Lampung adalah angkutan umum massal yang murah dan terintegrasi. Taksi nantinya cukup menjadi feeder setelah masyarakat menggunakan bus atau kereta,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti masih minimnya fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Lampung. Menurutnya, jumlah fasilitas pengisian daya di ruang publik masih jauh tertinggal dibandingkan daerah di Pulau Jawa.
“Saat ini SPKLU di Lampung masih belum memadai. Pemerintah daerah perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperbanyak fasilitas pengisian kendaraan listrik di tempat umum,” ujarnya.
Selain infrastruktur, Abi mengingatkan pentingnya kesiapan sumber daya manusia, khususnya para pengemudi taksi listrik.
“Driver juga perlu diberi pembekalan dan pelatihan terkait penggunaan kendaraan listrik agar tidak terjadi kesalahan operasional di lapangan,” tandasnya.
Dengan hadirnya ratusan armada taksi listrik, Lampung dinilai mulai memasuki era transportasi modern berbasis energi ramah lingkungan. Namun keberhasilan implementasinya tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur, pengelolaan lalu lintas, serta integrasi transportasi publik agar tidak memunculkan persoalan baru berupa kemacetan yang semakin parah. (*)

berdikari









